The Autumn of Shone

Today is the last week of October. It is still in Autumn, the leaves still fall down, they are still yellowish.

Yesterday was the Golden October, the weather was not cold, warm with the sunshine.

On Monday, the sun shone too. I said to you “I want you to stay with me, more than as a friend”. You replied “no, I can not”.

Last week I just planed, I wanted have a date with you, the beautiful days in Autumn. Romantic and warm in the same time. I wanted the romance, the memory in Autumn, not you.

On Sunday we met. We had fun, were happy, careless, angry and sad. Maybe just me. I still do not want you. Until on Monday, the day when you were gone. I was wanting you, before we live seperate between million of trees, like now.

Let say I have a friend and his name Shone, from a second past verb “Shine”. He was not so shiny like the sun at the first, before I knew that he could calm me like the moon. Even it was dark, his light would light up my days. We liked to meet, to chat, to say jokingly, to be upset, to make video calls, to make phone calls, or just to see each other. “We are close friends, ” he said to me one time, I laughed. Neither agree, nor to deny. I just laughed and asked myself “are we?! I don’t feel we are”. He couldn’t hear what I said to myself, sure. And then on Sunday he said to my flatmate “we know each other maybe around 6 months” and I laughed. Asked myself “really?! I even forget when I met him”. And then he said to his self “I don’t want to have any hope about you, I would be upset, if I lost you. I do not want to lose you.” and repeated to me. I did not laugh. I stupefied and told myself “I own me. I would, if I will”.

That was many weeks ago. And now you lost me in Autumn.

I just wanted to have a date with you, just one day on Sunday, in a perfect day of Autumn. We would walk together through the trees and under the rain of leaves. The sun would shine for us, would have better food ever with a warm cup of your favorite tea and we will talk like we were falling in love. Even we are not, even we would just pretend. I would better pretend as your lover than your friend. Because it is Autumn and you should not betray the most romantic weather. But, you did.

Here I am now, maybe I am sad and sadder when I look through my windows, the Autum is still there. The leaves fall more, turn their color more yellowish, reddish, brownish. This is my sixth Autumn and the saddest one. This is my first time that I miss the winter. The Autumn is still here and would stay with me for awhile. But, you are not.

Good bye, Shone!

Advertisements

Hilangnya Tahun 2014

Lucu sekali, saya baru sadar, kalau saya tidak pernah menulis apapun di blog ini selama tahun 2014, tidak satu artikel pun. Kenapa ya? Kembali ke tahun lalu, kalau saya ingat-ingat kembali, banyak yang saya lakukan. Dari mulai ikutan pameran foto, mengambil banyak seminar (seperti seminar menulis, berbicara dan film), mencoba-coba situs perkencanan alias dating sites, pulang kampung ke Indonesia, 12 hari di Hungaria mengikuti kegiatan universitas di musim panas dan di akhir tahun saya sibuk dengan belajar/bekerja sana sini. Mau rasanya, saya ceritakan satu persatu pengalaman tahun lalu. Supaya saya tahu, saya tidak menyia-nyiakan waktu. Kamu pasti tahu peribahasa “waktu adalah uang” atau “time is money”? Iya lah. Itu yang saya percaya, tapi sayangnya kenapa saya tidak bisa menabung waktu? Yang paling sering saya dengar malah: efisiensi waktu. Artinya, kita harus sebisa mungkin memanfaatkan waktu yang ada dan yang sedang kamu punya saat ini. Tentu saja, “saat ini” bisa direncanakan dari waktu-waktu sebelumnya di masa lampau dan dengan kedispilinan yang tinggi, agar rencana-rencanan tersebut bisa dijalankan, lalu waktu bisa menjadi “efisien”. Begitu katanya, mengingatkan diri sendiri akan konsep “efisien”.

Sayangnya, saya gagal dalam mengefisienkan waktu-waktu, setidaknya sepertiga dari waktu yang saya punya. Tahun 2014 adalah tahun yang beberapa bulan lalu paling saya sesali, jujurnya. Alasannya karena saya tidak pernah menulis blog di tahun itu. Ha ha ha. Tentu saja bukan karena itu, tetapi karena saya tidak sadar dan ingat seberapa besar nilai yang saya telah lakukan di tahun itu. Apakah cukup berharga untuk tidak saya sesali? Kadang saya berdoa secara spontan sebelum terjatuh lelap, kalau saja saat saya bangun, saya bisa kembali ke dua tahun lalu. Atau kadang saya berharap punya kekuatan menghentikan waktu dan di waktu yang terhenti itu, saya bisa bersantai sepuas hati, sampai rasanya santai itu memuakkan dan lalu memulai kegiatan-kegiatan seharusnya. Sayangnya, doa dan harapan itu cuma untuk dunia dongeng. Aneh ya, katanya waktu adalah uang, tetapi ketika saya tidak mau memakai waktu, kenapa malah waktu telah terbuang dengan sendirinya. Ya memang, yang harus saya bandingkan antara konsep waktu dan uang adalah nilainya, bukan bentuk materinya. Oleh karena itu, saya akan mencoba mengingat nilai-nilai dari aktivitas yang telah saya lakukan di tahun 2014, sehingga saya tidak merasa kehilangan dan tidak perlu ada sesalan dalam mencari waktu.

Aaah….

Aku ingin sekali, mengumpulkan waktu-waktu yang pernah tidak aku pakai dan terbuang dengan sendirinya, ke dalam dompet khusus waktu. Akan ku pakai di setiap detik dengan kata sifat “efisien”. Coba saja aku bisa menabung waktu, mungkin aku bisa seperti Paman Gober yang berenang-renang di tumpukan emas, lalu aku berenang-renang di ratusan jam. Coba saja, aku sudah menjadi orang kaya, kaya dengan waktu luang.

Nah loh, apa hubungannya konsep “waktu” dengan judul “Hilangnya Tahun 2014”? Ah, karena kata “hilang”, yang membuat waktu tidak akan kembali, tetapi akan selalu dicari. Semoga bertemu kembali. Ah, saya cuma mau bikin pendahuluan buat post-post berikutnya, sekalian pengingat diri sendiri kalau saya mengunjungi blog pribadi: memotivasi saya untuk menulis tentang berbagai aktivitas yang ‘berguna’ di tahun 2014. Kalau istilah linguistiknya, to show my own “self identitiy” in 2014 and my future posts could be very humble brag, which is positive self disclosure. Ngomongin Linguistik, saya bahagia sekali hari ini, karena konferensi “International Language in Media” yang sudah diidam-idamkan dari bulan Juni sudah diikuti dan selesai dengan penutupan yang indah. Nanti saya akan ceritakan lebih lanjut, detail konferensinya bagaimana dan seperti apa. Sayang saya tidak punya foto, tapi mungkin bisa saya curi fotonya dari media sosial mereka, para intelektual itu. 🙂 So, have nice thursday everyone! 😉

p.s. dari hasil penelitian tentang Bahasa Jepang di Blog dan Facebook, dinyatakan kalau gadis-gadis muda (di bawah umur 30) di Jepang sangat suka sekali menggunakan Emoticon atau Emoji, untuk bisa tetap terlihat imut alias Kawai. Makanya saya sengaja pakai 2 emoticon di awal dan penutup kalimat! ^_^

Buku harian: alat pengingat di hari muda dan penangkal lupa di hari tua

Tadi saya terketuk hatinya untuk menulis kegiatan sehari-hari, dimulai dari sekarang, jam 3 pagi, satu jam menuju shalat shubuh. Kenapa? Otak saya sakit sekali, kira-kira setengah jam yang lalu, saat saya mencoba mengingat nama website belanja yang ingin saya kunjungi di dunia maya. Kira-kira saya butuh sekitar (hampir) 5 menit untuk mengingat nama website itu, mau tau namanya apa: otto.de

Itu website jual beli, Jerman punya. Hanya untuk mengingat website ini, saya harus mengumpulkan ingatan-ingatan saya yang terkait dengannya. Dimulai dari tetangga keluarga tamu saya yang di sini, yang notabene pekerja di website tersebut, sampai saya mencoba mengingat omongan sahabat saya yang terngiang-ngiang tanpa menyebut nama website ini, kurang lebih dia bilang begini “coba aja beli di website ini, ternyata registrasinya mudah dan bahkan dapat keuntungan potongan harga..”. Terus saja, suara dia bergaung di otak saya dan sambil membayangkan tetangga keluarga tamu saya yang suka memakai jas ketika dia pergi ke tempat kerja. Voila! Otto!

Dari situ, setelah merasa otak terenyut, saya teringat kata-kata semua teman dan juga pesan dari film korea “a moment to remember”, yaitu mulailah menulis jurnal harian atau lebih terkenal lagi: buku harian, untuk mencegah datangnya penyakit pikun alias demensia, “dementia” dalam bahasa latin atau “demenz” dalam bahasa Jerman. Ya, jadi teringat juga saya kan punya blog, kenapa tidak dibuka dan dipakai saja toh. Tadinya mau mencoba menulis offline saja alias di wordpad, dkk. Tapi ya, kenapa tidak di sini, sekalian bisa curhat dengan teman dunia maya, jadi kalau saya memang kena penyakit yang saya takuti itu, mungkin ada orang yang bisa membantu memanggil ingatan saya kembali, tanpa harus menunggu anggota keluarga terdekat atau sahabat. Yah meski saya sebenarnya bukan tipe orang yang terbuka soal kegiatan saya dan tidak terlalu suka untuk bercerita pada orang-orang yang tidak dikenal baik, tapi kenapa harus ada “tetapi”, “meski” dan “yah”, tulis saja lah buku harian di blog ini.

Hmm..karena waktunya juga sudah fajar dan mepet ke waktu ngantuk saya, saya tekankan kalau apa yang saya tulis belum tentu benar dan tidak ada referensi yang bisa saya berikan di sini. Misalnya: untuk mencegah adanya demensia itu kita harus menulis kegiatan sehari-hari, atau, salah satu tanda demensia itu lupa akan satu kata. Kedua hal tersebut, jujur hanya rasa ketakutan dan praduga saya sendiri saja. Soal yang pertama, kenapa kita sebaiknya menulis kegiatan sehari-hari untuk mencegah lupa, itu karena teman-teman saya bercerita pada saya, kalau mereka ke dokter dan hal tersebut yang disarankan. Atau, seperti yang saya bilang sebelumnya, di film korea “a moment to remember” dan hollywood “50 first dates” jelas disuguhkan bagian-bagian dimana si peran utama yang punya penyakit demensia ke dokter dan mereka disarankan untuk menulis buku harian. Begitu lah. Kalau soal tanda demensia yang seperti pengalaman saya itu,  hanya lupa satu kata, jujurnya itu hanya ketakutan saya semata, hehehe. Nanti, kapan-kapan, kalau lagi ga malas, saya tulis lagi deh, tanda-tanda demensia dini, lengkap dengan referensinya. Kebetulan saya punya teman yang sedang belajar dan praktek alias Ausbildung di sekolah keperawatan khusus orang tua di Hamburg. Daaan tahukah kalian, berapa umur pasien demensia yang paling muda yang pernah dia tangani? 30! Ya, umur tiga puluh. Yang mana hanya 16 bulan lagi untuk saya dalam mencapai umur perak itu. Oh la la.

Sudah ah, lelah juga, padahal cuma bercerita dengan tulisan tentang kenapa saya menulis blog lagi, kenapa saya ketakutan akan demensia dan kenapa juga ya saya harus beralasan di sini. Yang pasti, kemarin, yang mana tanggal 26 Agustus 2015, saya menghabiskan waktu bersama keluarga di Hamburg sini, hampir seharian. Dari mulai serunya malam lusa kemarin bermain Monopoly bersama anak berumur 9 tahun dan remaja perempuan berumur 16 tahun dari jam setengah sepuluh malam sampai 12 malam, lalu saya kalah telak lagi, sampai heboh mengangkat kardus yang super besar ke jasa pengiriman diiringi tangisan bocah 9 tahun itu yang jatuh dua kali dari skateboard-nya. Yang manis adalah penutupan tadi malam, yaitu saya sudah membeli sepatu vintage coklat, yang diinginkan dari dua hari pekan lalu, dengan harga miring di Tk Maxx (toko outlet untuk barang-barang murah, semisal Heritage-nya Bandung) dan makan malam saya yaitu Ayam Kecap yang super enak! Untuk para pecinta ayam di dunia maya ini, cobalah masak ayam kecap ditambah paprika merah-kuning-hijau, wortel dan cabai merah & hijau, rasanya ciamik! Sebelumnya, saya ekstra memanggang ayamnya sampai kering dan kaldu ayam yang terkumpul di atas kertas aluminium saya masukan ke dalam ayam kecap itu. Selamat mencoba: memasak ayam kecap, mengunjungi Tk Maxx, bermain Monopoly (lagi seperti masa kecil dulu) dan menulis buku harian. Semoga otak kita selalu teraktualisasi seperti jaman teknologi saat ini.

https://www.vagabond.com/de/Women/
Sepatu Vintage Idaman

p.s. Misi saya esok hari: menulis tugas, mungkin menulis jurnal harian dan bekerja shift malam, yoss!!