Category: Truly Fiction

TIGA SAHABAT (bagai ‘kepompong’)

Josh, Sari dan Vega adalah tiga sahabat yang hampir tak terpisahkan. Padahal umur persahabatan mereka masih seumur jagung, baru juga ulang tahun ke-1. Tapi jangan salah, mereka sudah memproklamirkan diri mereka seperti Geng ‘Kepompong’ , 4 tokoh utama dalam sinetron “kepompong” yang saat ini (mungkin) sedang booming.

Tapi sayangnya, mereka lupa dengan makna kepompong sendiri, yang berarti suatu fase dimana ulat akan berubah mnjadi kupu-kupu. Lalu terjadilah ‘perubahan’ itu. Pertanyaannya: apa berubah menjadi indah atau sebaliknya pada persahabatan mereka?

Mereka bagai kertas dengan tinta, tak dapat dipisahkan. Hanya saja, ada salah satu personel yang mulai pacaran dengan personel di luar geng ‘kepompong’ mereka.

Lalu, salah satu personel yang lain menyukai personel geng ‘kepompong’ yang lainnya, padahal menurut undang-undang mereka, hal itu DILARANG! Pacaran sesama personel geng “kepompong’ sama seperti berhubungan Incest. Dapat membuat cacat persahabatan. Jadi ‘suka’ tersebut hanya terpendam dalam hati yang paling dalam.

Terakhir, personel ‘kepompong’ yang mulai bingung, kesal, dan marah atas perubahan yang terjadi di kedua sahabat yang lain;
“Kenapa sih dia kok sibuk pacaran banget, waktu buat maen ma gue mana!!! Kenapa juga lagi sahabat gue yang satunya malah jadi canggung gini & tiba-tiba perhatian lebih ma gue! Pacar gue juga bukan, iiih ga asyik banget!!!” rutuknya.

Hasilnya geng ‘kepompong’ terombang-ambing tak tentu arah,

dan “BRAAK!” suara celengan pecah.

“Ini uang dari celengan gue, buat bantu-bantu loe gugurin kandungan itu! Cuma ada segini sih, tapi gue masih ada saving di bank, kira-kira cukup ga?”
“Ga tau. Gue ga tau harganya berapa. tapi gue ga yakin… gue takut dosa.. masa gue harus bunuh jabang bayi ini sih. Tolongin gue…gue takuuut banget..”
“fuuuh” suara hembusan rokok yang keluar dengan kasar.
“Suruh siapa lo ML!!??” teriak pengisap rokok itu. “coba kalo loe ga pacaran dulu. Fokus ma geng kita, kan ga bakalan kaya gini!!!” lanjutnya lagi.
“Udahlah..ko lo ribut banget sih dari tadi. Yang hamil siapa coba. Aduh! tu ganja buang mending, bikin pengeup kamar gue aja!” si empunya celengan mencoba menenangkan keadaan.
“OH! Lo belain dia!!! dulu-dulu aja lo bilang naksir gue! sekarang belain dia!!! Taiiik lo!”

________________________________________________________________suasana pun menjadi hening.

“hihihihihihihi. Hahahahahahha” lanjutnya sambil tertawa. Padahal tidak ada yang lucu sama sekali.

Kedua sahabatnya malah sama sekali tak peduli, mereka berdua mencoba mendiskusikan kembali masalah ‘kehamilan’ salah seorang sahabat.

“Gimana pendidikan lo? Lo mu cabut aja? ga mungkin pertahanin tu bayi, kalo lo mau tetep jalan seimbang ma pendidikan lo.”
“ga tau! Serius, gue bingung.”
“Mending lo bilang ma bonyok lo, at least they’re the best adviser.”
“iya, gue juga kepikiran hal itu. mungkin itu jalan yang terbaik”

Diskusi mereka berdua diakhiri dengan kesepakatan itu, jalan kembalinya manusia kepada manusia, di mana dan dari siapa mereka dilahirkan. Anehnya bukan kembali kepada Tuhan. Ya begitulah..
Masih dengan backsound suara tertawa yang sudah tidak jelas lagi.
Diskusi mereka berdua di akhiri dengan kesepakatan untuk bilang ke orang tua, kalau “dia hamil.”

Besoknya, geng ‘kepompong’ benar-benar bermetamorfosis. Mereka kehilangan personelnya. Sari kehilangan bayinya, dia menjadi korban tabrak lari. Mengherankan dan menimbulkan berbagai kecurigaan terhadap pacarnya yang sangat kaya raya itu. Sekarang dia teronggok tak berdaya, koma.

Vega dilarikan ke rumah sakit dan masuk rehabilitasi setelah ditemukan OD, hampir tak bernyawa. Dia mencampur zat heroin, wine, kokain, dan sanax menjadi satu dalam perut manusia. Bukan campuran yang baik bagi manusia.

Lalu tinggalah Josh mencari personel geng ‘kepompong’ yang baru,
“mungkin ‘boys only’ seru juga!” pikirnya.
Setelah hatinya tersakiti dan terkhianati tepat di saat cinta pertama baru tumbuh, hatinya mulai membelokkan arah, gairahnya timbul berbeda. Sekarang dia menjadi seorang Homosexual.

-fin-


*cerpen ga penting, demi memuaskan seorang manusia sedarah, akan terinspirasinya saya pada persahabatannya.

-Bandung, Friday 22 May 2009-

ANGIN

Hamburg adalah kota pelabuhan. Tidak heran, angin yang berhembus bagaikan badai jika dibandingkan dengan kota Jerman lainnya. Aku merasakan kembali hembusan angin besar menghempas tubuh kecil ku, begitu dingin. Apa aku bisa bertahan hidup di kota angin ini. Jika teringat Heidelberg, kota romantis yang terkenal sebagai kota terhangat di Jerman dan kota pertama aku berlabuh di negara ini, maka aku akan sangat membenci Hamburg dengan anginnya. Di hadapanku tersuguh pandangan indah sungai Alster di sore hari pada musim semi. Bahkan musim semi di sini, bagaikan musim dingin di Heidelberg.

Sudah berbulan-bulan aku harus meninggalkan Heidelberg dengan segala pesona yang aku cinta, dan berusaha menetap di Hamburg selama kurang lebih setahun demi pekerjaan yang dapat menyambung hidupku di sini. Lalu, sudah hampir dua tahun aku meninggalkan kekasih di negara kelahiran ku. Dia yang selalu menemaniku selama menimba ilmu di perguruan tinggi. Dia yang siap sedia menghiburku saat aku dalam haru, mengajarkanku saat aku dalam buta akan sesuatu, bersenda gurau saat aku butuh tertawa, tempat bermanja saat aku bermain peran kanak-kanak, memberikan petuah dewasa saat aku bermasalah, membuatku cemburu buta saat melihatnya dekat dengan gadis lain, dan juga membuatku bebas terbang bersama angin jika aku mengenal lelaki lain. Seperti sekarang, aku menunggu lelaki lain yang selalu menemaniku selama aku menginjakan kaki pertama kali di kota ini. Sebut saja aku seperti angin, yang bisa terbang kapan saja dan kemana pun aku mau.

Lelaki yang aku tunggu ini, mengenal ku di dunia maya, tertarik pada ku, dan memberikan sepucuk surat yang seperti tak ada ujung kata dalam kalimatnya. Dia memiliki cerita hidup yang begitu panjang dan memikatku. Aku bahkan bisa saja tak terlelap tidur demi membaca kata-katanya, dan butuh sehari hidupku untuk membalas suratnya. Dia begitu berbeda dengan dua lelaki lain yang aku kenal di negara ini. Dia benar bersungguh-sungguh pada diri ku, mencoba mendekatiku dengan segala keluguan yang di balut kecerdasannya, hanya saja tak ada kesan lebih untukku saat pertama kali bertemu tatap muka. Dia hanya seseorang yang mungkin benar-benar jodoh ku atau mungkin hanya sebagai teman pendampingku selama kekasih yang aku cinta begitu jauh ku gapai.

Aku sebut saja kekasih ku sebagai kincir angin, dan lelaki itu sebagai balon udara. Kincir angin ku tahu benar, balon udara selalu mengikuti gerak langkah ku di sini. Bahkan kincir tahu, balon udara itu mencintaiku. Sudah hampir 6 tahun aku memadu kasih dengan kincir angin, dan dia pernah bilang, bahwa aku boleh terbang sesuka hati ku jika aku tak bahagia dengannya. Dia hanya akan menunggu sampai aku kembali terbang ke pelukannya, menunggu bahkan jika aku pernah menjadi istri orang lain. Dia tidak bisa menjanjikan pernikahan apa pun untuk ku, tidak untuk saat ini. Hanya keluarganya lah yang memenuhi otaknya dengan segala macam masalah, yang bahkan aku sendiri tak mau mendengarnya. Kincir angin hanya menerbangkan ku kepada orang lain, dia hanya bisa tinggal, berdiri tegak, berfungsi untuk orang lain di sekitarnya, dan tanpa bisa pergi bersama ku. Aku begitu sedih sampai ke urat nadi, jika mengingatnya.

Sebenarnya, aku merasa bersalah jika seperti ini. Bertemu lelaki lain, dan bahkan masih menyandang kekasih seorang kincir angin. Tapi, bukan sepenuhnya salah ku. Situasi yang membuatku seperti ini, bahkan kincir angin sendiri yang harusnya bersalah, dan juga kesalahan balon udara yang selalu mengikutiku kemana pun aku terbang. Sebenarnya mimpi ku sederhana, aku ingin berlabuh pada seseorang yang bisa menangkapku. Mungkin aku dapat berlabuh di kota pelabuhan ini tertangkap oleh sang balon udara. Meski angin di sini masih dingin menusuk, aku akan berusaha membuat angin ini menjadi hangat dan menyejukan bagi setiap orang yang terhempas dan menghirupnya. Dia, si balon udara itu datang memberikan senyuman terhangat di sore yang dingin ini. Memelukku, menciumku, meraih tanganku, mendekap bahuku dan lalu duduk sangat lekat di samping ku di hadapan sungai Alster. Aku sadar, tubuhnya sudah tidak bisa aku lepaskan, aku telah tertangkap olehnya. Tak ada jalan keluar, tak ada kincir angin yang bisa menerbangkan ku ke tempat lain.
“I will marry you..” ucapnya berbisik perlahan di kuping ku.
Aku terkejut, memandang mata birunya. Menggeleng perlahan, mencoba menjelaskan bagaimana situasi ku saat ini dengan keluarga ku, dengan kekasih ku, dengan agama ku. Lalu tangannya mengusap halus dagu ku, memaksa ku menatap matanya.
“hear me, I’ll wait everything, until you ready to make a decision….all the things are in your hands actually.” lalu dia mengecup halus bibir ku.
“and I believe, I already catched the wind..I have just to follow and wait.” lanjutnya sambil tersenyum.

Aku memang setan. Beberapa minggu setelah kejadian itu, benar saja terjadi hal yang aku takutkan dan juga harapkan. Aku harus melepas cinta ku. Aku membaca surat dari kincir angin, bahwa dia melepaskan ku, seutuhnya. Jiwa dan ragaku bukan miliknya lagi. Aku begitu sedih hingga ke ulu hati, hubungan yang sudah lama terbina harus begitu saja menguap. Hanya saja tak ada air mata, tidak seperti perpisahan-perpisahan sebelumnya yang membuat aku dan kincir angin selalu gila. Mungkin aku lega. Mungkin ini yang terbaik bagi kita, karena aku dan dia tidak bisa bersatu. Dia yang selalu menyerah akan aku, dan yang selalu berjuang akan keluarganya tanpa pernah peduli. Mungkin ini yang terbaik yang Allah berikan.

Kemudian bulan-bulan berlalu, dan hari ini aku kembali merasakan angin dingin di depan Alster. Menunggu kembali sang balon udara. Aku ingin sekali bercerita. Sosok besar itu datang, memeluk ku, mencium ku, menggenggam tangan ku dan kita berjalan di sisi sungai Alster. Aku pegang erat tangannya yang besar itu, lalu ku daratkan ke atas perutku.
“the baby is here…” ucap ku sambil berusaha tersenyum,
dan menikmati ekspresinya yang bercampur aduk, terkejut tak percaya tapi sangat bahagia. Dia memeluk ku dan menangis.
Aku bahagia, dan dia si balon udara ku itu, telah resmi menjadi suami ku saat ini.

ketika hanya pintu yang terlihat

Acie melangkah gontai keluar pintu pagar rumah. Rasanya malas dia pergi ke sekolah. Inginnya tidur saja sampai siang. Belum lagi rutinitas menunggu angkutan kota, atau biasa disingkat angkot, yang selalu penuh, dan biasanya lama sekali menunggu sampai mendapat tempat, atau kadang beruntung, mendapat tempat duduk yang hanya di pinggir menempel pintu. Indonesia memang tak kenal bahaya. Waktu sudah jam 7, dan Acie masih saja menunggu. Terpaksa dia akan dapat hukuman, karena telat masuk nanti. Sampai akhirnya, dia sukses mendapatkan angkot kosong, yang hanya 2 penumpang saja. Ya terang saja kosong, memang sudah jam masuk anak-anak sekolah, batin Acie. Di jalan yang dia lalui, Acie melihat sosok lelaki berseragam sama yang sangat dia kenali. Dia mendarat pula di angkot yang sama dengan Acie.

“aaah Accieee…” Panggil Ardi tepat sekali saat dia masuk angkot. Lalu, Ardi mencubit pipi Acie, mengacak rambut ikalnya, dan mengambil begitu saja permen lolipop dari mulut Acie ke mulutnya. Dan mulailah Ardi berceloteh “ya ampun, kamu tuh ya, ini bedak ga rapi amat, mana menor..Tuh belum lagi masih ada upil di mata kamu..aduuh iiih ini cewek” kicaunya, sambil mengusap sana sini pipi Acie, belum lagi membersihkan mata Acie dari yang memang benar adanya upil. Acie merasa resah sendiri dengan perlakuan Ardi.

Mereka memang bisa dibilang bersahabat. Atau mungkin hanya berteman dekat, tak pernah ada yang tahu, mereka sendiri pun tidak. Tapi Ardi menyukai Acie hanya sebagai teman, bukan suka sebagai perempuan apalagi cinta, itu pun tebak Acie. Sedangkan Acie, perasaan Acie dibuat mabuk kepayang selama setahun lebih, itu pun Ardi tak menyadarinya. Mereka bertemu di kelas yang sama di kelas 1 SMA, tak ada pergantian murid di sekolah mereka dari penaikan kelas 1 ke kelas 2. Karena hal itu, solidaritas anak-anak di kelas mereka sangat lah erat. Kemudian terbentuklah kelompok pertemanan yang terdiri dari tiga perempuan, dan empat lelaki. Acie dan Ardi termasuk dalam kelompok itu.

Ardi sempat menjadi idola kelas karena keramahan dan juga wajah manisnya. Dia bahkan mewakili Jejaka kelas dalam ajang Mojang-Jejaka angkatan anak baru di penerimaan SMA dulu. Dia suka sekali bercanda, senang tertawa, pintar bergaul, tak kenal malu, dan tidak gemilang dalam nilai rapot. Dia merasa nyaman dengan hidup di sekolahnya, meski sebenarnya di luar sekolah, masalah selalu menyapanya di pintu rumah. Ardi sempat berpacaran selama kurang lebih dua tahun dengan gadis yang dia kenal dari SMP mula, sampai akhirnya di akhir kelas 1, mereka berpisah. Ardi dikhianati.

Acie tak pernah tahu artinya menyukai, apalagi artinya mencintai. Di SMP dulu, ada beberapa lelaki yang menawarkan suatu hubungan monyet, tapi dia tak mau. Acie masih menunggu pangeran berkuda putihnya datang memberikan bunga mawar merah, dan juga mencium tangannya. Dia tak pernah merasakan dijemput saat berangkat, ataupun diantar saat pulang sekolah oleh lelaki mana pun. Dia adalah anak perempuan pengkhayal, yang bertemankan majalah remaja, dan juga sinetron di televisi. Hidup Acie berjalan dalam mimpinya, sedangkan di kelas dia adalah anak pemalu yang polos. Sampai akhirnya, dia melihat Ardi.

Menurut Ardi, cantik itu sangat relatif. Mantan kekasihnya yang pernah benar benar dia sukai pun, sama sekali jauh dari cantik. Bahkan banyak orang mengatakan, dia adalah kakak perempuan Ardi. Ardi hanya merasakan kenyamanan luar biasa saat dia bersamanya. Sedangkan rasa yang Ardi dapatkan saat melihat Acie adalah rasa kasihan. Dia melihat Acie selalu diam, murung, dan hanya benar-benar tertawa saat bersama Ardi dan lima temannya yang lain. Acie tidak cantik, sedikit manis tidak lebih. Tapi saat dia bahagia, bergumam lucu, merenggut sok marah, ekspresi-ekspresi seperti itu membuat Ardi ketagihan. Ekspresi yang muncul saat Ardi berlaku jahil, berlaku memanjakan, berlaku seperti seorang kakak, dan berlaku lebih dari seorang teman dekat. Hanya hati Ardi berkata lain, baginya Acie memang salah seorang teman dekat.

Di mana pun Acie ingin kabur menyendiri dari teman-temannya yang berisik itu, Ardi pasti akan bisa menemukannya. Lalu, Ardi akan menjahilinya sampai akhirnya Acie menyerah dan ikut bergabung bersama formasi teman-teman dekatnya itu. Mereka kadang bermain di kota, atau berlibur di pantai, atau hanya berfoto tak jelas, hal hal yang begitu saja. Lalu ada saat di mana Acie hanya melihat Ardi saja. Saat Ardi menggunting kukunya, saat Ardi membonceng dengan motornya yang baru, saat Ardi duduk disamping bangku yang sama ikut mendengarkan kaset terbaru Acie berbagi headphones walkman, saat Ardi menyentuh Acie dengan rasa tidak jijik pada permen lolipop, pada mata berupil, dan pada hal hal yang selalu membuat Acie terkesan. Saat Acie tahu, Ardi dikhianati pacarnya, tak pernah ada secuil pun harapan di hatinya, bahwa Ardi akan berpaling padanya. Karena dia pun masih belum percaya bahwa Ardi adalah pangeran impian berkuda putihnya.

Hanya sampai kelas 2 saja mereka bersama, menikmati kebersamaan. Di kelas 3, mereka terpisah akan perbedaan minat belajar. Meskipun terkadang Ardi datang untuk mengunjungi kelas Acie, untuk juga menemui teman-teman dekat yang lainnya di kelas yang sama dengan Acie. Sejauh itu, Ardi tak pernah berpaling pada Acie sebagai perempuan, dan Acie pun masih tak mengharap lebih pada perasaan Ardi, maupun perasaannya sendiri. Lalu, Acie dan Ardi melalui gerbang SMA dengan mulus menuju gerbang perguruan tinggi. Acie harus melanjutkan perguruan tinggi di Bandung, sedangkan Ardi dengan rela mengikuti pilihan yang ada, di Jakarta. Acie dan Ardi sibuk dengan hidupnya yang baru. Terkadang Acie dikejutkan oleh, kedatangan mendadak Ardi di Bandung, yang katanya, mau menjenguk juga teman-teman dekatnya yang lain yang juga di Bandung. Acie mengangguk, meski hatinya berkata bohong, dan mengucap khayal bahwa Ardi datang untuknya.

Lalu, ada saat di mana Acie bermimpi akan Ardi selama 4 hari berturut-turut, seakan nyata. Di hari ke lima, Ardi menelepon Acie, dan mengatakan kalau dia sangat merindukan Acie. Hati Acie melambung tinggi, sampai akhirnya dia yakin, bahwa Ardi adalah pangeran berkuda putihnya. Mereka bercanda ria dengan gagang telepon, tertawa dengan kata-kata di layar handphone, tersenyum malu di dunia maya, dan terkadang bertatap benar benar di depan mata. Ardi tak tahu, bahwa tindakannya terlalu jauh bagi Acie. Dan Acie telah terbang sendiri di angkasa.

Kemudian, datanglah di mana hari berlibur bersama bagi Acie, Ardi, dan kelima temannya yang lain di pantai. Saat bermain di pantai, Acie yang memang selalu dianggap sebagai anak kecil, dan paling sering dijahili oleh teman lelaki yang lain, memakai kaus bewarna putih. Ketiga teman lelaki yang lain melihat hal itu sebagai kesempatan, dan tak pikir panjang, mereka mengangkat Acie lalu melemparkannya hampir ke tengah lautan, hingga Acie basah kuyup, dan tentu saja kausnya yang putih itu menjadi transparan. Acie marah sekali, hingga rasanya tak ada kata-kata yang sanggup dia keluarkan, kejahilan teman-temannya itu sudah diluar batas. Setelah Acie berteriak marah dan memukul teman-temannya satu persatu, dia memandang Ardi yang sedari tadi hanya sebagai penonton bersama kedua teman perempuannya yang lain. Dia hanya diam saja, dan malah meneruskan obrolan bersama salah seorang teman perempuannya yang lain, seperti tak ada hal yang terjadi. Kejadian di liburan itu berbekas besar di hati Acie.

Hubungan mereka masih biasa saja, sampai saat salah seorang teman Acie dengan riangnya berkicau pada Acie, bahwa Ardi baru saja menyatakan cinta padanya. Cinta yang sudah terpendam dari kelas 1 SMA dulu, bahkan di saat Ardi masih memiliki kekasihnya dulu. Acie seakan tak percaya mendengarnya, kupingnya berdenging selama temannya bercerita. Padahal, temannya itu tahu sekali bagaimana perasaan Acie pada Ardi. Dan yang menyesakkan Acie, temannya itu sudah memiliki hubungan yang serius dan sudah hampir menjadi istri seseorang yang lain, yang bukan Ardi. Acie semakin tak mempercayai Ardi. Sampai akhirnya dia beranikan diri, memancing Ardi dengan nama temannya itu dan menyinggung akan perasaan Ardi padanya, tapi Ardi hanya mengelak bahkan marah. Mereka bertengkar. Acie tak mengerti Ardi.

Lalu mereka hampir menyelesaikan perguruan tinggi. Acie hanya beberapa hari lagi mendapatkan gelar sarjananya, sedangkan Ardi menghilang. Acie tak pernah melihat Ardi kembali sejak pertengkaran mereka terakhir. Acie mendengar, bahkan Ardi tak menyelesaikan studinya. Hubungan mereka tidak pernah jelas, atau bahkan tak pernah ada. Bertahun-tahun sudah mereka tak pernah bertemu, bahkan Acie hampir melupakan Ardi, dan menemukan seseorang yang benar benar menyukainya. Sampai akhirnya, Ardi muncul di depan rumah Acie dengan sebatang rokok di tangan. Acie terkejut sekali, dengan sosok Ardi yang berbeda sekali dengan dulu. Wajahnya terlihat kuyu, janggutnya tidak tercukur rapi, badannya agak gemuk, rambutnya dibiarkan gondrong, dan yang membuat Acie kecewa, Ardi adalah seorang perokok berat. Saat Ardi melihat sosok Acie di depan pintu, dengan ekspresi yang terkejut bahagia kecewa sedih bingung, ekspresi yang dulu selalu membuat Ardi ketagihan. Hanya saja, ekspresi saat ini begitu matang, tak ada kepolosan lagi di wajah Acie yang bisa Ardi permainkan. Ardi merasa malu telah datang padanya, dengan kondisinya saat ini.

“hay Acie.. Apa kabar? Aku datang hanya untuk menengokmu..aku kangen..udah lama sekali ya..” ucap Ardi pelan.
Acie hanya bisa mengangguk, lalu duduk di sampingnya.

“Kamu bingung ya, kenapa aku menghilang begitu saja..tak ada kabar atau apa pun?!”

Acie menggeleng “jangan bilang apa pun Ardi.. Aku akan menikah….”

“Ah..” Sarat kecewa muncul sekilas di wajah Ardi,
selamat ya cie…juga pada pangeran berkuda putih mu itu…”

Acie memandang lekat wajah Ardi. “..dia bukan pangeran yang aku impikan, dia hanya mencintaiku..”
sekejap tak ada yang mampu berkata.
lalu..kamu mau datang ke pernikahan ku?” tanya Acie memecah kesunyian mereka.

Ardi menggaruk rambutnya yang terlihat kusam itu,
“tidak, aku harus pergi..dan mungkin tak akan pernah menemuimu lagi…
maaf, selama ini aku selalu menjadi tulang ikan di tenggorokan mu” ucap Ardi sambil berusaha tertawa di buat-buat.

“Ardi ga lucu.” sela Acie pada tawa Ardi.
Dulu mungkin aku hanya bisa diam, dan malu-malu akan semua yang keluar dari mulut mu dan dengan segala sesuatu berlebihan yang kamu lakukan. Sampai kamu yang selalu menjadi khayalku. Sosok pangeran yang dulu yang selalu hadir di mimpi ku, saat ini di depan ku, datang dari menghilang, seorang pengecut yang bahkan tak tahu perasaannya sendiri, dan bahkan tersesat datang ke rumah ku” emosi Acie meluap.

“…” Ardi memandang mata Acie dengan tatapan pedih.

“terima kasih Ardi, untuk mewarnai hari-hari remaja ku. Dan untuk menunjukan realita saat aku sekarang menuju hidup baru..” lanjut Acie kembali.

“lalu?” tanya Ardi

Acie memandang Ardi dengan tatapan tanya.

“lalu kamu benar-benar tak mau mendengar penjelasan ku, tak mau tahu perasaan ku dulu, dan tak mau apa pun dari aku? benarkah aku serendah itu Acie..? Masa lalu itu bukan kebohongan, dan akan selalu tersimpan di otak mu yang berkapasitas tiada tara” setelah selesai mengucapkan kata terakhir, Ardi bangun dari bangku teras rumah Acie, dan berdiri tepat di hadapan Acie.

“sekali lagi selamat cie…semoga berbahagia. Kamu tahu, kita terlalu sombong dengan pikiran kita masing-masing..kita terlalu mencintai diri kita sendiri, hingga sebenarnya cinta itu tak pernah ada. Tak akan pernah ada di antara kita. Kita terlalu hebat untuk sama lain. Hanya saja, sampai detik tadi setelah kamu berbicara, kamu tetaplah sama, kamu yang di depan ku ini, tetaplah seorang gadis yang aku kasihani.” Kemudian Ardi mengecup mata Acie.

“aku bahkan sangat suka dengan upil di mata mu di saat pagi dulu, tapi kamu bahkan tak pernah bertanya kenapa. Kamu tak pernah bertanya, dan tak pernah mau mendengar…mungkin jika kamu dulu sedikitnya bertanya, atau mungkin meyakinkanku… akan rasa..mungkin kita….. ” lanjut Ardi kembali.
Ardi menatap lekat mata Acie, mencoba membuat Acie mengerti akan kata-kata yang hilang di mulutnya.
Acie menundukkan wajahnya, dan menggeleng pelan.
Kemudian perlahan Ardi berjalan mundur, lalu berbalik dari hadapan Acie, dan berjalan gontai keluar dari pintu pagar rumah.

***

#Play Parachutes – Your story