Month: April 2017

Alhamdulillah

Segala puji dan syukur ku panjatkan pada-Mu, Tuhanku Yang Maha Esa.

Ah memang, angka 13 selalu menjadi angka favorit saya. Tepat hari senin, tanggal 13 Maret, jam 13 waktu Eropa bagian Hamburg, Jerman, saya telah menyelesaikan skripsi strata kedua saya, rapih tercetak di ratus lembaran kertas.  Saya tidak tidur semalaman saat itu, dari mulai hari minggu jam 11 siang saya terbangun, hingga akhirnya setelah sibuk di kampus dan selesai menyerahkan tesis ke Prüfungsmanagement, saya boleh lelap sejenak sekisaran 30 menit (karena saya juga harus terus bekerja jam 17 di hari yang sama). Saat itu adalah saat yang saya idamkan, saat saya akhirnya bisa tertidur dengan senyuman yang tak mau pergi dari wajah. Rasanya seperti mimpi, kalau saya bisa menyelesaikannya, si Masterarbeit. Benar-benar suatu keajaiban. Mungkin bisa dibilang, saat itu adalah hari terbahagia saya di Jerman dan saat saya benar-benar tulus merasa bangga dengan diri saya sendiri.

Saat itu, ya, saat ini bukan saat itu. Perlahan saya harus membuka ingatan akan hari itu dan minggu-minggu sebelumnya. Mengapa saya merasa menyelesaikan skripsi S2 adalah suatu keajaiban, yang mungkin bagi orang lain hal yang biasa-biasa saja? Jadi begini, saya akan bercerita bukan saja soal “saat itu” tapi juga soal saya di masa-masa sebelumnya.

Saya lahir sebagai anak bungsu, yang manja dan juga malas, malas sekali, sungguh. Untungnya, kedua kakak saya cerdas, pintar dan rajin. Jadi orang tua saya tidak pernah sekali pun memaksa saya untuk menjadi pintar dan rajin. Terkecuali teteh saya, entah kenapa dari dulu dia cinta banget sama adik satu-satunya ini, selalu ada saja yang dia paksakan dari saya, tak terkecuali soal belajar.

Dari mulai saya kelas 3 SD, si teteh rajin mencekoki saya dengan kata-kata dalam Bahasa Inggris. Saya masih ingat, misalnya dia dulu menyuruh saya menghapal nama-nama warna dalam Bahasa Inggris. Hampir setiap kita makan bersama di meja makan, dia akan sekonyong-konyong berseru “Green?!” ke arah saya, bukan berseru biasa, itu namanya test buat saya, yang kalau saya salah jawab entah lah apa konsekuensinya. Test tersebut bukan saja di meja makan, tapi juga ketika saya baru bangun tidur lah, pulang sekolah lah, dan seterusnya. Maklum, si teteh teh saat itu sudah kelas 1 SMP dan kononnya hanya dalam pelajaran Bahasa Inggris dia kurang bersinar, yang mana dalam pelajaran-pelajaran lain nilainya di atas rata-rata semua.

Kegalakan teteh bukan musibah bagi saya kalau menyangkut soal pendidikan, tetapi anugerah besar. Di mana orang tua saya memerhatikan saya hanya soal yang saya ‘inginkan’, teteh saya memerhatikan kelemahan saya alias yang saya tidak sukai, yaitu dalam belajar. Seingat saya dulu, saya baru bisa menulis dan membaca di kelas 2 SD, dibantu oleh adik nenek saya, aki Nanin. Dengan bantuan kartu-kartu bertuliskan satuan huruf yang berwarna-warni, saya belajar sambil bermain. Dari ingatan saya, dari dulu kelemahan saya adalah sulit berkonsentrasi. Makanya, metode ‘Paksaan’ yang teteh saya terapkan dari dulu sangat membantu saya, terutama dalam belajar bahasa. Saya paling unggul di pelajaran Bahasa Indonesia dan Inggris, hehe Bahasa Daerah alias Sunda sih tidak, entah kenapa dulu saya tidak punya motivasi belajar Bahasa Sunda.

Selain teteh saya, si Aa yang mana kakak pertama saya juga ikut andil dalam membuat saya suka dan mudah belajar Bahasa Inggris. Alasannya juga mudah, karena dia punya alat games, SEGA dan PlayStation. Dari kelas 4 atau 5 SD saya lupa, saya sudah akrab dengan alat permainan tersebut, sampai-sampai rebutan main dengan si Aa. Tangisan sudah pasti saya gunakan untuk menjadi alat ampuh untuk Aa mengalah. Di permainan tersebut, saya paling suka games jenis Adventure seperti Resident Evil, Alone in the Dark, Final Fantasy, dan lain-lain. yang mengharuskan pemainnya memecahkan teka-teki dan juga games “bercocok tanam” Harvest Moon yang membuat saya hapal nama-nama sayuran dalam Bahasa Inggris.

Di saat saya mulai bermain SEGA atau PS, tak lupa saya siapkan kamus di samping saya plus ditemani musik-musik yang jaman dulu sedang ngetop, lagu-lagu indonesia atau barat (bahkan waktu SMA lagu cina, jepang dan korea pun didengar). Jaman dulu tahun 1990an tidak seperti sekarang, yang orang-orang di televisi, radio atau bahkan mungkin anak muda di angkutan kota biasa berbicara mencampur adukkan Bahasa Indonesia, Daerah dan Inggris ke percakapan sehari-hari. Jaman dulu, ketika belum ada media sosial, dan komputer baru dipakai di kalangan tertentu, Bahasa Inggris masih sulit dipelajari oleh orang-orang. Apalagi saya lahir dan besar di desa yang dekat dengan kota kecil, di mana ‘cuma bisa’ berbicara Bahasa Indonesia saja di bilang sombong (itu dulu tapi ya, di saat pabrik-pabrik di daerah Sukabumi belum bermunculan).

Kembali ke masa lalu saya yang malas belajar. Jujurnya, saya tidak pernah merasakan rangking 2 apalagi rangking 1. Pernah sepertinya rangking 3, tapi itu pun lupa, apa hanya khayalan atau memang nyata. Saya bahkan tidak pernah berambisi untuk menjadi rangking 1. Melihat kakak-kakak saya yang berambisi, rajin belajar untuk mendapat rangking, cukup membuat saya dan orang tua bangga. Saya tidak pernah mempunyai keinginan seperti kakak-kakak saya untuk menjadi unggul di sekolah, karena saya harus menggunakan waktu yang berharga saya untuk rajin belajar, bukan untuk hal yang saya sukai seperti bermain games  atau menonton televisi misalnya sinetron Abad 21 atau film Misteri Gunung Berapi. Dulu, cita-cita saya juga berubah-ubah, seperti ingin menjadi detektif terkenal (karena membaca buku pasukan 5 sekawan), insinyur pertanian (karena pernah menonton sinetron Meriam Belina yang dia terkena penyakit kanker (seingat saya)), pramugari (karena bisa seperti istri Aa sepupu saya yang bisa ke luar negeri) dan yang paling terakhir menjadi sutradara (karena terinsipirasi dorama jepang Anchor Woman dan juga kartun seri yang tokoh utamanya “Momoko”).

Voila! Saya lolos UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri; di tahun 2016: “Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri” (SNMPTN)), masuk jurusan Sastra Jerman Universitas Padjadjaran (sekarang di bawah Fakultas Ilmu Budaya) di Bandung. Ga nyambung dengan cita-cita saya yang di sebut tadi, memang iya. Saya pun bingung, kalau ingat alasannya, pasti saya senyum-senyum sendiri. Alasannya masih berhubungan dengan si teteh. Untuk urusan pendidikan dalam hidup saya, yang paling banyak berpengaruh adalah si teteh ini. Dari mulai SD sampai masuk ke Universitas. Sepertinya, di pikirannya dia dulu, dia sudah melihat si adik tidak bisa lepas dari PS, TV, radio, komik dan novel. Media yang mempunyai peranan andil dalam memengaruhi pengetahuan saya akan “bahasa dan komunikasi”. Jadi, di saat saya tanya dia, jurusan apa yang saya harus ambil untuk pilihan kedua selain “komunikasi”, teteh dengan gampangnya bilang “Bahasa Jerman. Dosen atau guru [saya lupa] teteh pernah bilang, kalo ke Jerman itu mudah soalnya banyak jalur beasiswa.”

Ya, saya pun manut.

Sebelum itu, saya merajuk mamah, ingin mengambil Sinematografi di IKJ (Institut Kesenian Jakarta). IKJ mahal dan gaya hidup mahasiswa-mahasiswinya bebas, kata teteh, dan mamah pun percaya, impian saya pun tertunda. Tetapi, keinginan bisa hidup di luar negeri masih ada. Terserah lah di mana, yang penting tempat di mana orang-orang berbahasa asing dan berambut pirang hidup, seperti di film seri kesayangan Dawson’s Creek.

Dalam kehidupan SMA saya, tidak pernah sekali pun saya ikut bimbel (bimbingan belajar) dari tempat-tempat les. Tentunya pernah saya ikutan les di tempat les, hanya dua kali. Sekali, les komputer saat saya duduk di kelas 2 atau 3 SMP (lupa), dan kali kedua les bahasa inggris saat saya kelas dua SMA. Les privat langsung dari Gurunya seperti les Matematika dan Kimia hanya saya datangi di hari pertama, selanjutnya tidak dilanjut. Pernah sih les privat di Aa sepupu saya yang juga guru matematika di SMP saya dulu, itu pun cuma dua kali datang, sekali ketika mau ujian nasional SMP, kedua ketika mau ujian UMPTN.

Saya belajar UMPTN pun cuma bisa/mau dari buku super tebal yang berisi kumpulan ujian UMPTN tahun 1990-2003. Seingat saya, saya setiap hari membaca buku kumpulan UMPTN itu, tidak lupa sebelum dan sesudah belajar, saya selalu bermain PS. Memang kebiasaan buruk. Bahkan sehari sebelum pengumuman, saya pun main PS semalaman, karena sudah ikhlas apapun hasilnya nanti.

Bukan saya merasa cerdas, makanya saya tidak belajar, tetapi saya malas, sungguh. Ada saat saya merasa berambisi kok, ketika saya di kelas 2 SMP dan 3 SMP, di mana saya belajar SKS (sistem kebut semalam) semalam sebelum ujian, bukan ambisi untuk rangking 1 tapi untuk bisa lulus SMP dan tidak dicap bodoh oleh teman dekat saya. Atau saat saya SMA kelas 3, karena saya mau lulus SMA. Lalu saya pakai trik khusus untuk UMPTN saat itu, karena saya hanya mampu dalam pelajaran bahasa, jadi saya hanya mengisi dengan penuh keyakinan semua soal Bahasa Indonesia dan Inggris (dulu di UMPTN ada IPS kah?! Lupa). Soal matematika hanya saya isi 6-7 pertanyaan saja. Katanya lebih baik tidak diisi kalo tidak tahu, karena ada sistem minus jika salah menjawab.

Keajaiban demi keajaiban terjadi selama saya melanjutkan jenjang sekolah hingga ke universitas. Mamah saya selalu bilang kalau saya anak yang beruntung, beruntung bisa naik kelas dan beruntung bisa masuk jenjang sekolah berturut-turut. Tapi benarkah saya hanya ‘beruntung’? Di mana saat saya mengerjakan ujian-ujian sekolah, pertanyaan-pertanyaan yang keluar adalah pertanyaan yang saya sudah pelajari. Tidak mau munafik, saya juga mencontek kok di SMP dan SMA. Masih saya ingat juga, saat SD, guru saya memberitahu saya dan teman-teman kelas semua jawaban hampir semua soal di ujian kelulusan SD. Tapi, apakah hal itu membuat saya tidak layak mendapat gelar sarjana?

Tidak, saya tidak hanya beruntung. Dan tidak, saya layak mendapat gelar sarjana. Karena di balik semua ini, ada suatu rangkaian kesinambungan yang menjadi alasan, mengapa saya bisa berhasil menyelesaikan pendidikan Sarjana Strata 1 dan 2. Salah satu alasan itu adalah karena adanya rezeki Tuhan. Dia memberikan keajaiban demi keajaiban dengan membuka pikiran saya akan suatu bidang khusus yang sebelumnya perlahan tersampaikan lewat teteh  dan media-media yang sudah saya sebut, terbentuk semakin kuat di otak saya. Saya layak mendapatkan gelar saya, karena saya tidak pernah sekali pun mencurangi bidang yang saya geluti ini. Jujur, saya hampir selalu mencontek di ujian-ujian bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) apalagi Fisika, saat saya SMA (‘ntahlah saat SMP, lupa). Keajaiban melalui keyakinan akan hal yang saya bisa, melalui yang saya suka.

Kembali ke saat itu, saat di mana saya menyelesaikan Masterarbeit saya. Satu minggu sebelum hari terakhir masa tenggat (di Universitas Hamburg, mahasiswa wajib daftar sebelum menyerahkan skripsinya. Dalam program master diberikan waktu 5 bulan untuk masa pengerjaan tesis), saya baru berhasil menulis sebanyak 30 halaman dari 80 halaman (± 10%) yang harus saya tulis. Baru dua bab yang utuh selesai, bab Einleitung  (Pendahuluan) dan Methode und Korpus (Metode dan Data). Apa yang saya lakukan selama 5 bulan ini? pekik saya setiap harinya. Alasan demi alasan saya cari untuk memaafkan diri sendiri yang malah balik menyerang menyalahkan diri sendiri. Maag saya pun kambuh dengan dahsyat. Sakitnya bukan main setiap harinya. Kisaran 10 hari sebelum masa penyerahan saat itu, saat saya masih berbangga akan diri yang merasa kuat karena tidak menitikkan air mata, bertekad untuk pergi ke dokter, meminta surat sakit dengan alasan “kambuhnya penyakit maag” untuk bisa memperpanjang hari penyerahan Masterarbeit. Dari tanggal 7 Maret menjadi tanggal 13. Saya pun bisa bernafas sedikit. Tapi tetap saja, 50 lembar dalam waktu 2 minggu? Mimpi buruk. Apa yang lalu saya lakukan di 2 minggu sebelum hari H?

3 hari pertama: saya galau, sukanya tidur-tiduran, bertemu Lektorat (orang yang mengoreksi bahasa tulisan (Jerman saya di Masterarbeit) secara “gaya tulisan”, “isi” dan “gramatika”), baca-baca tidak jelas, mengotak-atik data, mencoba mengurangi pertanyaan penelitian, bertemu teman-teman dekat dan menonton drama korea. Alhasil, hari kelima di minggu pertama sebelum pengumpulan, saya berhasil menulis 10 halaman. Yang mana saya masih harus menulis 40 halaman dalam waktu 9 hari. Bandelnya saya, 2 hari saya malah kabur dari menulis, bermain bersama teman dekat. Alhasil, harus menulis 40 halaman dalam 7 hari. Di saat 7 hari itu saya harus menyelesaikan bab analisis, bab kesimpulan dan bab teori. Banyak ya, memang iya.

1 minggu sebelum hari H, saya rutin makan obat Omeprazol dan minum Iberogast plus vitamin ikan, menangis setiap malam, hilang selera makan dan mengidap kesulitan tidur yang membuat saya selalu tidur jam 7-8 pagi sehabis menulis. Kegiatan saya setiap harinya saat itu, bangun kisaran jam 11-12 siang dengan ceria dan keyakinan akan bisa menyelesaikan tesis, sarapan sambil menonton drama korea, memulai mengerjakan tesis (biasanya bukan langsung menulis, tapi membaca atau membuat diagram dari data yang sebenarnya tidak akan digunakan), makan siang sambil menonton drama korea, lalu kegalauan datang setelah matahari terbenam: merasa tidak akan sanggup menulis, menangis, chatting atau menelepon teteh untuk bilang “tidak sanggup”, “tidak kuat”, dll., curhat pada teman kesayangan, lalu setelah itu kembali ke Laptop dan saya bisa menulis hingga jam 4, 5, 6 atau bahkan pernah sampai jam 9-10 pagi (bangun tetap jam 11-12).

Anehnya, saya tidak sakit dengan rutinitas tersebut. Itu saya sebut keajaiban. Sahabat dan teman-teman terdekat yang saya sudah anggap keluarga di Hamburg, adalah keajaiban lainnya. Teman yang sukarela membawakan printer-nya ke kosan saya yang 6 lantai di hari minggu tanggal 12 Maret untuk boleh saya pakai. Juga teman-teman saya yang lain yang datang silih berganti untuk menyemangati saya H-1 dan 2. Teman kos dan ibu angkat yang mau membantu mengoreksi bab teori saya, terutama ibu angkat yang sudah mengoreksi 7-10 lembar tulisan saya semalam sebelum masa tenggat. Saya juga menemukan Lektorat yang luar biasa super wunderbar, berkat bantuan dari seorang teman lainnya. Lektorat yang mau menemani saya semalaman bergadang sebelum hari terakhir penyerahan, yang mau menunggu saya menyelesaikan 10 lembar dalam waktu 24 jam, super kilat mengoreksi 10 lembar dalam waktu 1-2 jam. Bantuan lainnya bahkan datang dari mantan dosen pembimbing saya dulu di UNPAD yang super bageur memberikan ide dan saran. Belum lagi, dosen pembimbing saya di UHH yang super baik, yang selalu menyemangati dengan kata-kata positif penuh motivasi, membantu mengolah data dan malah (katanya) sampai mencari-cari saya di perpus pas hari H, khawatir saya tidak sanggup menyerahkan tesis tepat waktu. Keajaiban lainnya lagi, saat saya mulai mengerjakan tesis di bulan Oktober, saya dekat dengan teman lama yang lama-lama menjadi ‘teman kesayangan’ dan dia lumayan banyak mengorbankan diri mendengarkan makian/curhatan/antusiasme saya soal tesis. Ini saya sebut juga keajaiban.

Maka, nikmat manakah yang kamu dustakan?

Begitu ‘indah’ dan panjangnya perjalanan saya, hingga saya bisa menyerahkan Masterarbeit dengan jumlah 114 halaman pada waktunya. Begitu pun dengan berhasilnya ujian lisan yang berbentuk ujian komprehensif yang telah saya lalui. Seperti biasa, saya saat itu hanya belajar (membaca materi ujian dengan penuh konsentrasi) dua hari sebelum hari H, tentu saja itu pun tidak seharian penuh. Malah dua materi baru saya bisa baca beberapa jam sebelum ujian. Berhasilnya saya pun, saya sebut keajaiban, karena tidak mungkin terjadi tanpa campur tangan-Nya. Bukan karena saya cerdas kepalang bisa menjawab semua pertanyaan dengan lancar, tetapi karena dosen penguji saya diberikan kelembutan hati oleh-Nya. Beliau yang bilang sendiri lho, katanya ucapan saya tidak bisa dimengerti untuk beberapa hal, tapi dia hiraukan saja karena mungkin katanya saya nervous, dan belum lagi ada satu tema yang saya lemah (yang saya baru baca satu jam sebelum ujian), tapi alasannya bisa jadi karena dosen pembimbing saya sendiri yang salah. Bukan kah itu hal yang aneh?

Sangat bersyukur sekali, saya sudah mencapai ke saat ini. Di mana saya tidak perlu menangis lagi, tidak sulit tidur dan makan, tidak takut akan masa depan, dan lain-lain. Banyak sekali yang saya dapatkan dari masa menulis skripsi S2 ini, terutama pelajaran hidup. Saya yang selalu menikmati hidup, selalu bermain dan belajar semau-maunya, telah memaksakan diri untuk menyelesaikan apa yang saya sudah mulai, melalui hal yang sulit saya mulai, yaitu fokus belajar. Selain itu, saya juga belajar percaya akan kemampuan diri sendiri dengan selalu percaya dan memohon bantuan-Nya.

“Saya tidak mau menjadi orang yang pemalas, saya tidak mau menjadi orang yang selalu menggeser kewajibannya di saat terakhir, karena saya tidak mau menjadi orang yang selalu ketakutan akan masa depan, lagi.” ini yang selalu menjadi mantra saya setiap hari. Karena saya pada dasarnya adalah saya, manusia yang dulu pemalasan, manja, tidak berambisi, yang hanya ingin bermain setiap harinya. Ambisi saya saat ini, saya ingin berubah, menjadi jiwa yang lebih kuat, pribadi yang tenang juga menyenangkan dan lebih disiplin akan hidup. Sukses dengan parameter sendiri, bukan orang lain. Hidup saya yang sebenarnya baru dimulai sekarang, entah saya akan menjadi apa, bagaimana dan dipengaruhi oleh siapa. Yang pasti saya yakin, saya saat itu, saat ini dan saat nanti, hidup berbahagia dengan keajaiban-keajaiban yang Allah berikan, sepanjang saya bernafas. Alhamdulillah.

 

p.s. Anyway, nilai tesis saya belum keluar nih. Apakah akan ada keajaiban besar dari hasil Masterarbeit?! Apapun hasilnya, prosesnya telah terekam di tulisan ini. Insya Allah, saya ikhlas akan apapun hasilnya dan sedang berusaha berprasangka baik. 🙂

Dedicated for my Teteh. Terima kasih banyak tetehku atas caramu mencintaiku, yang telah membuatku seperti sekarang. Ich liebe Dich. _h.p._

 

Advertisements