Buku harian: alat pengingat di hari muda dan penangkal lupa di hari tua

Tadi saya terketuk hatinya untuk menulis kegiatan sehari-hari, dimulai dari sekarang, jam 3 pagi, satu jam menuju shalat shubuh. Kenapa? Otak saya sakit sekali, kira-kira setengah jam yang lalu, saat saya mencoba mengingat nama website belanja yang ingin saya kunjungi di dunia maya. Kira-kira saya butuh sekitar (hampir) 5 menit untuk mengingat nama website itu, mau tau namanya apa: otto.de

Itu website jual beli, Jerman punya. Hanya untuk mengingat website ini, saya harus mengumpulkan ingatan-ingatan saya yang terkait dengannya. Dimulai dari tetangga keluarga tamu saya yang di sini, yang notabene pekerja di website tersebut, sampai saya mencoba mengingat omongan sahabat saya yang terngiang-ngiang tanpa menyebut nama website ini, kurang lebih dia bilang begini “coba aja beli di website ini, ternyata registrasinya mudah dan bahkan dapat keuntungan potongan harga..”. Terus saja, suara dia bergaung di otak saya dan sambil membayangkan tetangga keluarga tamu saya yang suka memakai jas ketika dia pergi ke tempat kerja. Voila! Otto!

Dari situ, setelah merasa otak terenyut, saya teringat kata-kata semua teman dan juga pesan dari film korea “a moment to remember”, yaitu mulailah menulis jurnal harian atau lebih terkenal lagi: buku harian, untuk mencegah datangnya penyakit pikun alias demensia, “dementia” dalam bahasa latin atau “demenz” dalam bahasa Jerman. Ya, jadi teringat juga saya kan punya blog, kenapa tidak dibuka dan dipakai saja toh. Tadinya mau mencoba menulis offline saja alias di wordpad, dkk. Tapi ya, kenapa tidak di sini, sekalian bisa curhat dengan teman dunia maya, jadi kalau saya memang kena penyakit yang saya takuti itu, mungkin ada orang yang bisa membantu memanggil ingatan saya kembali, tanpa harus menunggu anggota keluarga terdekat atau sahabat. Yah meski saya sebenarnya bukan tipe orang yang terbuka soal kegiatan saya dan tidak terlalu suka untuk bercerita pada orang-orang yang tidak dikenal baik, tapi kenapa harus ada “tetapi”, “meski” dan “yah”, tulis saja lah buku harian di blog ini.

Hmm..karena waktunya juga sudah fajar dan mepet ke waktu ngantuk saya, saya tekankan kalau apa yang saya tulis belum tentu benar dan tidak ada referensi yang bisa saya berikan di sini. Misalnya: untuk mencegah adanya demensia itu kita harus menulis kegiatan sehari-hari, atau, salah satu tanda demensia itu lupa akan satu kata. Kedua hal tersebut, jujur hanya rasa ketakutan dan praduga saya sendiri saja. Soal yang pertama, kenapa kita sebaiknya menulis kegiatan sehari-hari untuk mencegah lupa, itu karena teman-teman saya bercerita pada saya, kalau mereka ke dokter dan hal tersebut yang disarankan. Atau, seperti yang saya bilang sebelumnya, di film korea “a moment to remember” dan hollywood “50 first dates” jelas disuguhkan bagian-bagian dimana si peran utama yang punya penyakit demensia ke dokter dan mereka disarankan untuk menulis buku harian. Begitu lah. Kalau soal tanda demensia yang seperti pengalaman saya itu,  hanya lupa satu kata, jujurnya itu hanya ketakutan saya semata, hehehe. Nanti, kapan-kapan, kalau lagi ga malas, saya tulis lagi deh, tanda-tanda demensia dini, lengkap dengan referensinya. Kebetulan saya punya teman yang sedang belajar dan praktek alias Ausbildung di sekolah keperawatan khusus orang tua di Hamburg. Daaan tahukah kalian, berapa umur pasien demensia yang paling muda yang pernah dia tangani? 30! Ya, umur tiga puluh. Yang mana hanya 16 bulan lagi untuk saya dalam mencapai umur perak itu. Oh la la.

Sudah ah, lelah juga, padahal cuma bercerita dengan tulisan tentang kenapa saya menulis blog lagi, kenapa saya ketakutan akan demensia dan kenapa juga ya saya harus beralasan di sini. Yang pasti, kemarin, yang mana tanggal 26 Agustus 2015, saya menghabiskan waktu bersama keluarga di Hamburg sini, hampir seharian. Dari mulai serunya malam lusa kemarin bermain Monopoly bersama anak berumur 9 tahun dan remaja perempuan berumur 16 tahun dari jam setengah sepuluh malam sampai 12 malam, lalu saya kalah telak lagi, sampai heboh mengangkat kardus yang super besar ke jasa pengiriman diiringi tangisan bocah 9 tahun itu yang jatuh dua kali dari skateboard-nya. Yang manis adalah penutupan tadi malam, yaitu saya sudah membeli sepatu vintage coklat, yang diinginkan dari dua hari pekan lalu, dengan harga miring di Tk Maxx (toko outlet untuk barang-barang murah, semisal Heritage-nya Bandung) dan makan malam saya yaitu Ayam Kecap yang super enak! Untuk para pecinta ayam di dunia maya ini, cobalah masak ayam kecap ditambah paprika merah-kuning-hijau, wortel dan cabai merah & hijau, rasanya ciamik! Sebelumnya, saya ekstra memanggang ayamnya sampai kering dan kaldu ayam yang terkumpul di atas kertas aluminium saya masukan ke dalam ayam kecap itu. Selamat mencoba: memasak ayam kecap, mengunjungi Tk Maxx, bermain Monopoly (lagi seperti masa kecil dulu) dan menulis buku harian. Semoga otak kita selalu teraktualisasi seperti jaman teknologi saat ini.

https://www.vagabond.com/de/Women/
Sepatu Vintage Idaman

p.s. Misi saya esok hari: menulis tugas, mungkin menulis jurnal harian dan bekerja shift malam, yoss!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s