no ‘ikhlas’ no cry

Pernahkah kamu benar-benar ikhlas? saya sepertinya tidak pernah, jujur saja begitu.

Ikhlas dalam memberikan kebaikan, ikhlas dalam menerima kenyataan pahit, ikhlas dalam merelakan kepergian. Benar-benar ikhlas dalam ketiga hal itu tidak mungkin terjadi secepat jepretan kamera.

Akan ada tahapan-tahapan menuju ikhlas yang benar-benar ikhlas.  Bisa seperti memanjat pohon, tebing curam atau bahkan semudah menaiki tangga menuju ujung keikhlasan. Satu langkah demi satu langkah kita usahakan untuk merelakan apa yang pernah terharapkan, dan hanya ingin ikhlas.

Bahkan, bisa saja manusia itu tidak pernah sampai pada ujung keikhlasan. Karena hanya tetap begitu, terdiam di situ, menyesali yang pernah terbaik yang dia pernah berikan yang hanya mendapat tinta hitam sepahit tinta gurita sebagai balasan. Atau bagi orang-orang yang bahkan tidak mengenal kata ‘ikhlas’, mungkin hati dan jiwanya sudah berada di dasar palung.

Di sini saya hanya ingin mengatakan bahwa manusia tidak bisa akan benar benar ikhlas. Benar pernyataan saya itu? tidak, kata si manusia yang selalu ikhlas. Benar, kata si manusia yang sulit untuk ikhlas. Tak tahu, kata si manusia yang tidak mengerti arti ikhlas. Kata saya, ya begitu. Sampai saat ini, saya masih menjajaki kata ikhlas. Berusaha selalu mengingatnya, mempelajarinya, memaknainya, dan melaksanakannya. Tapi tetap saja seperti tadi sebelum tulisan ini terbuat, saya melupakannya, saya tidak ikhlas.

Terucap kata demi kata di dalam hati, bahwa saya menyesali hal-hal baik (menurut saya) yang pernah saya lakukan. Bahkan suatu kata tuduhan akan sebuah pribadi. Lalu untuk apa menulis ini? tidak tahu. Sebagai mohon pengampunan akan ketidak-ikhlasan tadi mungkin, atau hanya sekedar mengingatkan diri, jika saya tidak ikhlas lagi saya akan membaca serangkaian kata-kata ini.

Bahwa saya benar-benar berniat untuk menjadi manusia yang ikhlas. Yang bahkan saya meragu apakah manusia benar-benar ikhlas pada Tuhannya. Bilamana tidak ada surga ataupun neraka, apakah manusia benar-benar akan berdoa? Begitu pun sebaliknya.

Maafkan saya, Tuhan yang Maha Esa. Tulisan ini hanya ungkapan hati sebagai obat ikhlas untuk menyambut jam-jam berikutnya. Karena ketika hati ikhlas, hidup terasa lebih cerah, bersih dan terang. Saya bisa lebih tersenyum dan bahagia dalam melakukan yang benar-benar harus dilakukan. Bukan hanya menggerutu dalam hati dan menghabiskan beberapa menit yang sudah bisa menjadi serangkaian kalimat yang bermakna yang tidak ada kaitannya dengan ikhlas atau tidak.

Kemudian di saat saya telah mengeluarkan hal-hal tidak ikhlas dalam tulisan tentang keikhlasan, saya menjadi bahagia, tersenyum, tanpa tangisan di kalbu ini. So, no ‘ikhlas’ no cry? ah coba petiknya hilang, akan menjadi: Ikhlas is no cry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s