what is the question?

Honorable Chairs, Honorable Delegates,

Sapaan itu yang harus diucapkan, ketika kita ingin memulai suatu tema yang ingin dibicarakan di sebuah model konferensi perserikatan bangsa-bangsa pada suatu asosiasi atau organisasi atau apapun lah. Dari hati ataupun dari otak, apapun bisa terjadi dan keluar  dengan susunan yang tertata dari mulut mulut itu. Permainan intelejensi, ataupun hanya bermodal unjuk keberanian akan menjadi pusat perhatian dalam situasi ini.

Jika kamu ingin menjadi si pemenang, bersungguh-sungguh lah, buat suatu rangkaian rencana yang tak terbatas dan tak akan terputus oleh pisau setajam apa pun. Siap kan diri dengan matang akan bahasa yang berstruktur dan sempurna. Bahasa itu loh, bahasa yang telah disepakati oleh hewan hewan itu sebagai bahasa manusia dunia.

Jika kamu ingin menjadi si  pendiam, diam lah, jangan sebut satu huruf pun, dan pergi lah, saat waktunya kamu pergi, tinggalkan lah mereka semua yang meracau itu, walau bagaimana pun kamu adalah si pendiam. Diam itu emas, tapi emas bagi mu si pendiam, bagi kami diam adalah diam. Diam adalah suatu ruang kosong yang kasat mata.

Jika kamu ingin menjadi si pengikut, ikuti lah dengan senyuman. Anggukan kepala pada A, B, dan C. Menjawab jika ditanya, bertanya jika di tunggu, dan berkomentar jika disebut. Saat waktu permainan habis, akan mengikuti siapa pun yang berwarna. Akan lebih baik, jika warnanya sama.

Lalu, ada pula si terserah, yang apapun terjadi adalah terserah. Menyerahkan semua kepentingan pada si pemenang. Menyerahkan semua amarah yang didengarkan si pendiam. Menyerahkan semua tanggung jawab pada si pengikut. Menyerahkan semua kebahagiaan dan pikirannya hanya pada si terserah yang lain. Terserah akan apa yang lain katakan, yang pasti dia berserah.

Dan kemudian datang lah, saya. Saya tidak tahu, saya ini apa, dalam konferensi ini. Saya bisa jadi pemenang, pendiam, pengikut, dan terserah saja. Hasilnya? nihil. Saya tetap dalam kubus monolog. Saya seharusnya menjadi salah satu dari mereka. Jangan pernah menjadi semuanya, jangan pernah menjadi serakah. Pilih lah salah satu dari mereka, dan saya tidak akan sendiri. Percuma menunggu seekor ikan, jika kita tidak memberikan umpan.

Dan saat ini, bahkan saya, telah menyia-nyiakan satu-satunya ikan yang tersisa, yang oleh Tuhan diberikan secara begitu saja.

Jadi, saya sebagai manusia yang bertuhan, berdoa dari hati yang paling dalam, bahwa esok hari akan saya buat lebih baik. Saya akan menjadi salah satu dari golongan mereka. Saya tidak akan menyia-nyiakan apapun yang teronggok di depan mata. Saya akan menjalankan dengan usaha dan doa, akan apa yang telah saya putuskan.

Teruntuk para delegasi yang telah saya ajak dan kemudian dia dikecewakan akan ketidakhadiran, yang telah saya sarankan dan kemudian dia dikecewakan tanpa ajakan, yang telah saya janjikan dan kemudian dia dikecewakan akan ketidaktegasan, yang telah saya jawab sapaannya dan kemudian dia dikecewakan dengan kurangnya sambutan, dan bagi semuanya yang berada di ruangan yang (mungkin) dikecewakan karena saya hanya bisa membuat kalian ternganga akan kata-kata yang keluar dari mulut saya. Lupakan saja semuanya, lupakan akan saya. Karena saya pun kecewa akan kalian, dan akan melupakan kalian.

Teruntuk sang Kursi, terima kasih. Kamu telah memberikan kursi ternyaman yang telah saya pesan. Esok hari dan keesokannya, saya tidak akan melupakan, dan akan membayar seharga jasa.

“I rise for a point of information to the chair and delegates. Honorable Chair and Delegates, could you please explain your question?”CIMG2682 - Kopie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s