Apa hanya orang-orang seperti Hercules, Narcissa, Queen Elizabeth, dan Bill Gates yang akan bertahan?

Tidak tahu harus di awali dari mana. Mungkin, dapat dimulai dari percakapan tanggal 21 April tentang negara India, negara yang terkenal akan kemiskinan, penyakit, dan penduduknya yang overload, tapi jangan lupa kata seorang teman, India itu adalah negara yang kaya akan ILMU! Wow, she’s right. Dia bilang India akan maju dan penduduknya akan bertahan untuk hal yang lebih lama. Katanya lagi, jarang penduduk India yang tak bersekolah, bahkan banyak yang sampai ke jenjang kuliah. Amerika pun mengakuinya. Untuk hal yang mudah dimengerti, coba tengok film-film hollywood yang menggunakan ras India untuk peran sebagai DOKTER.

Lalu di Indonesia, tanggal 22 April di kampus DU. Manipulasi iklan festival pekerjaan sangat jelas terlihat hanya demi kepentingan beberapa organisasi, para mahasiswa pun dibodohi. Apa yang tertera, BELUM tentu apa yang terjadi. Bagai seorang peri cantik nan seksi yang muncul dari dalam sungai mencoba mengajak kita untuk masuk ke dalam huniannya. Begitu pula TEKS, yang dapat mengajak 3 mahasiswa ke dalam FRAME yang diinginkan, dan hanya bisa terhempas ketika yang didapati hanyalah ‘s-u-n-g-a-i’, yang berisi air dan juga lumpur endapan. Frame menuju pengakuan sosial dan kenikmatan hidup, yaitu frame PEKERJAAN.

Lalu kita kembali ke masa kini. Bukan ke ‘masa digital’, hanya ke masa 2 jam yang lalu di Jatinangor, dimana ada suatu sketsa: Seorang pengemis lelaki tua yang lumpuh kakinya, duduk bersimpuh tak berdaya di pinggir jalan, hanya dengan pakaian hitam yang sangat kumel, ditambah juga aksesoris topi yang juga tak kalah GEMBEL. Dia hanya duduk menyorongkan topi, mencoba menarik perhatian orang-orang yang lalu lalang. Hasilnya: Mungkin nihil, atau mungkin adalah 100-1000 perak. Hidup memang dirancang manusia, hanya saja Tuhan-Allah SWT lah yang memutuskan. Bapak tua itu tidak tahu, bahwa 10 menit kemudian SAYA menjadi saksi, seorang calon PEMBUNUH , sang pelanggar aturan lalu lintas, membawa kendaraan umumnya ke sisi jalan dengan laju yang sangat kencang, menghadang motor dan hampir saja menggilas Bapak tua itu. Selanjutnya saya tidak dapat melanjutkan sketsa ini, karena SEMUA orang yang berada di sekeliling Bapak tua itu terhenti, hanya mulut yang menggunakan hak bertindak.
Ha-ha-ha. Tragis memang, kenapa malah di dunia ini manusia hanya menggunakan mulut, padahal mereka dan bahkan saya tahu bahwa di akhirat mulut itu tidak berguna.Yang pasti pada saat sketsa nyata tersebut hadir, disajikan Allah SWT kepada saya, saya hanya inigin ‘menulis’. Saya terhenyak bagai di pukul palu godam melihatnya, saya sudah lupa caranya ‘menulis’, rasanya, bahkan pengaruhnya ke dalam diri saya sendiri. Teringat pandangan Bapak tua itu ketika saya tanya keadaannya, dia hanya diam. Wajahnya diliputi kengerian, kepanikan, keterkejutan, bahkan rasa kasihan pada dirinya sendiri, mungkin dibenaknya “mengapa Saya?”.
Saya hanya dapat berdiri di sampingnya, dan saya hanya bisa berdiri disampingnya, hanya itu. Tidak dapat menyentuh tangannya yang penuh bisul, mengusap keringat di wajahnya yang juga berbisul, saya hanya berdiri disampingnya, lalu pergi. Saya memang hanya manusia biasa, tidak sekuat Hercules, tidak semolek Narcissa, tidak sekuasa Ratu Elizabeth, tidak sepintar dan sekaya Bill Gates, saya hanya pergi. Lalu menangis dan saat ini menulis.
Lalu teringat pandangan calon pembunuh itu, saat dia tersenyum, senyum yang terasa lunglai, yang terasa tidak enak, merasa bersalah, atau terasa sinis, mungkin dibenaknya, “Suruh siapa pengemis itu duduk di pinggir jalan, ketika begitu banyak tempat duduk yang kosong di kendaraan saya! Suruh siapa sepasang kekasih yang bermotor itu berpeluk-pelukan sehingga tidak melihat kendaraan saya! Kendaraan ini tahta dan kuasa saya, tapi mengapa hari ini begitu tidak ada rakyat yang dinaunginya!!!!!”. Mungkin karena situasi seperti itu yang terjadi, si calon pembunuh lengah.
Ah, saya tetap TIDAK SUKA dia, karena dia hanya mementingkan orang-orang yang duduk nyaman di atas kendaraan, bukan yang tersimpuh duduk di tanah. Satirnya, dia juga sama seperti saya, tidak berbuat apa-apa pada pengemis itu. Baik calon pembunuh maupun saksinya tidak berbuat apapun.
Meski begitu, supir itu adalah pemeran utama. Dia yang merencanakan melaju kencang dan melanggar aturan, mengapa saya juga harus merasa bersalah! Mungkin saksi-saksi lain di dunia juga, yang disajikan sketsa ini oleh Allah SWT, akan berfikiran sama seperti saya.

Lalu, saya merasa sajian yang diberikan selama 3 hari ini begitu enak dan lezat. Membuat perut saya menagih lagi, bukan untuk sketsa-sketsa yang secara fisik atau materil di atas, hanya menagih untuk rasa ini, rasa Bersyukur.

Benang merah:
Sketsa 21 April 2009: orang-orang yang mencoba bertahan menjadi seperti Bill Gates, orang-orang di India.
Sketsa 22 April 2009: orang-orang yang mencoba bertahan menjadi seperti Narcissa, Queen Elizabeth, bahkan juga Bill Gates. *Untuk memudahkan, sketsa ini menceritakan saya dan kedua teman saya yang TERKECOH dan TERBUAI dari sore hari sebelumnya hingga jam 14.00 tanggal 21 April, bahwa akan ada JOB FAIR gratis di kampus DU yang terang-terangan ditulis pada spanduk acara oleh mahasiswa-mahasiswa HI. Dan ternyata NIHIL, BOHONG, tidak ada acara apa pun melainkan seminar lain yang mengharuskan para mahasiswa membayar. Yang tersisa hanya kami yang kecewa, tersenyum-senyum, mencoba intelek dan kami hanya malu terdampar kembali ke tempat kami sebelumnya. Sekarang kami hanya menjadikan hal itu lucu, kami hanya bodoh. Tapi coba kita balik posisinya antara kami dan penyelenggara, siapakah yang menjadi Hercules, orang yang kuat?!
Sketsa 23 April 2009: ada orang yang mencoba bertahan menjadi seperti Hercules, dan ada pula yang mencoba menjadi seperti Queen Elizabeth.

Sketsa saat ini: Lalu dimanakah kita semua bisa bertahan hidup? Apakah di akhirat masih ada kata ‘bertahan hidup’ menjadi seperti bla bla bla… Karena kita hanya menjadi diri sendiri.
Lalu setelah saya telusuri, “ko’ selama 3 hari ini tidak ada sajian dramatis yang orang-orangnya bertahan hidup seperti Nabi Muhammad SAW ya?”

Dan tentu Saya menulis untuk diri saya sendiri, demi merasakan kepuasan berbagi.


###Eh dibaca ampe beres?! ha ha ha ketawa aja kali,ngaco ini.###

-Jatinangor, Thursday 23 April 2009-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s