ANGIN

Hamburg adalah kota pelabuhan. Tidak heran, angin yang berhembus bagaikan badai jika dibandingkan dengan kota Jerman lainnya. Aku merasakan kembali hembusan angin besar menghempas tubuh kecil ku, begitu dingin. Apa aku bisa bertahan hidup di kota angin ini. Jika teringat Heidelberg, kota romantis yang terkenal sebagai kota terhangat di Jerman dan kota pertama aku berlabuh di negara ini, maka aku akan sangat membenci Hamburg dengan anginnya. Di hadapanku tersuguh pandangan indah sungai Alster di sore hari pada musim semi. Bahkan musim semi di sini, bagaikan musim dingin di Heidelberg.

Sudah berbulan-bulan aku harus meninggalkan Heidelberg dengan segala pesona yang aku cinta, dan berusaha menetap di Hamburg selama kurang lebih setahun demi pekerjaan yang dapat menyambung hidupku di sini. Lalu, sudah hampir dua tahun aku meninggalkan kekasih di negara kelahiran ku. Dia yang selalu menemaniku selama menimba ilmu di perguruan tinggi. Dia yang siap sedia menghiburku saat aku dalam haru, mengajarkanku saat aku dalam buta akan sesuatu, bersenda gurau saat aku butuh tertawa, tempat bermanja saat aku bermain peran kanak-kanak, memberikan petuah dewasa saat aku bermasalah, membuatku cemburu buta saat melihatnya dekat dengan gadis lain, dan juga membuatku bebas terbang bersama angin jika aku mengenal lelaki lain. Seperti sekarang, aku menunggu lelaki lain yang selalu menemaniku selama aku menginjakan kaki pertama kali di kota ini. Sebut saja aku seperti angin, yang bisa terbang kapan saja dan kemana pun aku mau.

Lelaki yang aku tunggu ini, mengenal ku di dunia maya, tertarik pada ku, dan memberikan sepucuk surat yang seperti tak ada ujung kata dalam kalimatnya. Dia memiliki cerita hidup yang begitu panjang dan memikatku. Aku bahkan bisa saja tak terlelap tidur demi membaca kata-katanya, dan butuh sehari hidupku untuk membalas suratnya. Dia begitu berbeda dengan dua lelaki lain yang aku kenal di negara ini. Dia benar bersungguh-sungguh pada diri ku, mencoba mendekatiku dengan segala keluguan yang di balut kecerdasannya, hanya saja tak ada kesan lebih untukku saat pertama kali bertemu tatap muka. Dia hanya seseorang yang mungkin benar-benar jodoh ku atau mungkin hanya sebagai teman pendampingku selama kekasih yang aku cinta begitu jauh ku gapai.

Aku sebut saja kekasih ku sebagai kincir angin, dan lelaki itu sebagai balon udara. Kincir angin ku tahu benar, balon udara selalu mengikuti gerak langkah ku di sini. Bahkan kincir tahu, balon udara itu mencintaiku. Sudah hampir 6 tahun aku memadu kasih dengan kincir angin, dan dia pernah bilang, bahwa aku boleh terbang sesuka hati ku jika aku tak bahagia dengannya. Dia hanya akan menunggu sampai aku kembali terbang ke pelukannya, menunggu bahkan jika aku pernah menjadi istri orang lain. Dia tidak bisa menjanjikan pernikahan apa pun untuk ku, tidak untuk saat ini. Hanya keluarganya lah yang memenuhi otaknya dengan segala macam masalah, yang bahkan aku sendiri tak mau mendengarnya. Kincir angin hanya menerbangkan ku kepada orang lain, dia hanya bisa tinggal, berdiri tegak, berfungsi untuk orang lain di sekitarnya, dan tanpa bisa pergi bersama ku. Aku begitu sedih sampai ke urat nadi, jika mengingatnya.

Sebenarnya, aku merasa bersalah jika seperti ini. Bertemu lelaki lain, dan bahkan masih menyandang kekasih seorang kincir angin. Tapi, bukan sepenuhnya salah ku. Situasi yang membuatku seperti ini, bahkan kincir angin sendiri yang harusnya bersalah, dan juga kesalahan balon udara yang selalu mengikutiku kemana pun aku terbang. Sebenarnya mimpi ku sederhana, aku ingin berlabuh pada seseorang yang bisa menangkapku. Mungkin aku dapat berlabuh di kota pelabuhan ini tertangkap oleh sang balon udara. Meski angin di sini masih dingin menusuk, aku akan berusaha membuat angin ini menjadi hangat dan menyejukan bagi setiap orang yang terhempas dan menghirupnya. Dia, si balon udara itu datang memberikan senyuman terhangat di sore yang dingin ini. Memelukku, menciumku, meraih tanganku, mendekap bahuku dan lalu duduk sangat lekat di samping ku di hadapan sungai Alster. Aku sadar, tubuhnya sudah tidak bisa aku lepaskan, aku telah tertangkap olehnya. Tak ada jalan keluar, tak ada kincir angin yang bisa menerbangkan ku ke tempat lain.
“I will marry you..” ucapnya berbisik perlahan di kuping ku.
Aku terkejut, memandang mata birunya. Menggeleng perlahan, mencoba menjelaskan bagaimana situasi ku saat ini dengan keluarga ku, dengan kekasih ku, dengan agama ku. Lalu tangannya mengusap halus dagu ku, memaksa ku menatap matanya.
“hear me, I’ll wait everything, until you ready to make a decision….all the things are in your hands actually.” lalu dia mengecup halus bibir ku.
“and I believe, I already catched the wind..I have just to follow and wait.” lanjutnya sambil tersenyum.

Aku memang setan. Beberapa minggu setelah kejadian itu, benar saja terjadi hal yang aku takutkan dan juga harapkan. Aku harus melepas cinta ku. Aku membaca surat dari kincir angin, bahwa dia melepaskan ku, seutuhnya. Jiwa dan ragaku bukan miliknya lagi. Aku begitu sedih hingga ke ulu hati, hubungan yang sudah lama terbina harus begitu saja menguap. Hanya saja tak ada air mata, tidak seperti perpisahan-perpisahan sebelumnya yang membuat aku dan kincir angin selalu gila. Mungkin aku lega. Mungkin ini yang terbaik bagi kita, karena aku dan dia tidak bisa bersatu. Dia yang selalu menyerah akan aku, dan yang selalu berjuang akan keluarganya tanpa pernah peduli. Mungkin ini yang terbaik yang Allah berikan.

Kemudian bulan-bulan berlalu, dan hari ini aku kembali merasakan angin dingin di depan Alster. Menunggu kembali sang balon udara. Aku ingin sekali bercerita. Sosok besar itu datang, memeluk ku, mencium ku, menggenggam tangan ku dan kita berjalan di sisi sungai Alster. Aku pegang erat tangannya yang besar itu, lalu ku daratkan ke atas perutku.
“the baby is here…” ucap ku sambil berusaha tersenyum,
dan menikmati ekspresinya yang bercampur aduk, terkejut tak percaya tapi sangat bahagia. Dia memeluk ku dan menangis.
Aku bahagia, dan dia si balon udara ku itu, telah resmi menjadi suami ku saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s