Surat Mu Tak Pernah Ku Baca

Fini sudah lama mencintai Fuad. Sebenarnya, mereka memiliki rasa yang sama sejak di bangku smp mula. Sayangnya, tak ada rasa yang terungkap, seperti tak ada pernyataan cinta di antara mereka. Karena Fuad tak punya keberanian, karena Fini adalah perempuan. Mereka dua tahun dalam satu kelas yang sama, di kelas 1 dan 2 SMP. Hanya setahun bersama dan berbahagia. Bangku Fini tepat di belakang bangku Fuad.

Fini suka sekali melihat punggung Fuad. Bahu yang lebar, rambutnya yang agak kecoklatan, dan jika Fuad berdiri, dia tampak tinggi sekali. Fuad tidak ganteng, tidak juga gaul, hanya saja dia pintar dan pemalu. Itu yang Fini suka, sangat suka. Matanya yang selalu mondar mandir jika sedang berbicara, tangannya yang selalu mengangkat tinggi jika guru bertanya, dan jalannya yang seperti robot seakan memukau Fini. Fuad bukan anak yang terkenal di sekolah, maupun di kelas. Bahkan, teman-temannya bisa dihitung dengan jari. Teman Fuad, mungkin hanya buku-buku saja. Saat pertama kali Fini melihat Fuad, dia langsung beranggapan bahwa Fuad adalah orang yang spesial, dalam arti pintar, tapi sangat aneh. Fuad ternyata adalah anak guru bahasa Inggris. Pantas saja dia pintar, pikir Fini saat itu.

Fuad sama sekali tak menyadari adanya Fini, sampai suatu saat Fini selalu mengganggu punggungnya. Apa saja Fini lakukan, sampai membuat Fuad membalikan tubuhnya ke belakang, ke arah Fini. Fuad hanya tertarik pada buku-buku, tak lebih. Rapot yang indah, akan membuat senyuman di bibir Ibu tersayang, itu membuat Fuad bahagia. Lalu, Fuad sadar suatu hari, saat Fini tak datang ke sekolah, dia kehilangan Fini. Tak ada yang bisa mengalihkannya dari kejenuhan buku-buku. Tak ada yang bisa Fuad lakukan dengan penggaris di tangannya selain menghitung bentuk ruang di matematika atau menggambar di pelajaran seni rupa, padahal saat Fini ada, dia bisa mengganggu dengan penggarisnya itu. Memainkan rambut ikalnya itu, yang selalu dihiasi jepit atau bando yang sangat manis, mengganggu hidungnya yang kecil, dan matanya yang besar akan terlihat seperti marah. Fuad merindukan Fini, yang hanya salah seorang teman perempuan yang kadang dijahili oleh teman-teman lelaki yang lain, yang bingung jika ditanya dadakan oleh guru, yang hanya memiliki nilai bagus dalam bahasa inggris, yang bukan siapa-siapa bagi Fuad.

Lalu, di kelas 3, mereka harus berpisah. Fuad yang masuk ke dalam kelas unggulan, dan Fini yang masuk ke dalam kelas biasa. Mereka merasa kehilangan, saling memperhatikan dari jauh, dan jika tak sengaja bertemu, mereka malah mengalihkan muka, tak saling tegur sapa. Mereka terlalu malu. Fini tak pernah punya pengalaman pacaran, apalagi dengan Fuad, yang hanya berkutik dengan buku-buku. Fini merasa sangat sedih, jika melihat Fuad bercanda dengan anak perempuan lain, begitu pun dengan Fuad. Sayangnya, waktu semakin berjalan cepat, mereka harus segera meninggalkan bangku SMP, dan melanjutkan ke bangku SMA. Fuad melihat untuk terakhir kalinya Fini dengan kebaya hijau di saat perpisahan sekolah, dia terlihat sangat cantik dengan rambutnya yang disanggul gaya tiong hoa. Fini pun memandang Fuad yang terlihat gagah dengan jasnya, meskipun Fini tak kuat menahan tawa saat melihat gerak jalan Fuad yang selalu seperti robot.

Fini berhasil menyelesaikan bangku SMA dan perguruan tinggi tanpa mengenal Fuad, begitu pun dengan Fuad. Fini telah menemukan berbagai cinta lain yang selalu membuatnya patah hati, dan hampir melupakan Fuad. Begitu pula dengan Fuad, dia sukses dengan menyandang sarjana yang sangat memuaskan, tanpa menemukan cinta.

Fuad hampir saja melupakan Fini dalam hidupnya, begitu pun dengan Fini. Sampai saat mereka bertemu kembali di taman kota. Fini mengenali punggung itu, dan dengan cara jalan itu, tanpa ragu, Fini segera berlari ke depan untuk melihat wajah lelaki yang dia sangka Fuad. Mata Fuad segera menangkap rambut ikal yang sempat dia rindukan, lalu beralih ke mata bulat dan besar yang selalu terlihat ceria itu. Mereka bertemu dengan bahagia, duduk di bangku taman, berbicara, bersenda gurau, bertatap sejenak dan lalu, Fuad berkata: “senang bertemu dengan mu” dia pun menjulurkan tangannya, lalu Fini meraih tangan Fuad sambil mengangguk. Sejenak, mereka berjabat tangan, tanpa kata. Itu saat pertama kalinya mereka bersentuhan kulit, dengan rasa yang berbeda. Mereka bukan lagi anak ingusan dengan seragam putih biru. Mereka telah menemukan berbagai rasa di tempat lain. Fini dan Fuad saling memandang, saling menunggu kata lanjutan dari kalimat perpisahan, dan jabat tangan. Tak ada yang memulai. “baiklah, aku harus pergi” ucap Fini dengan gerak tubuh menunggu pertanyaan Fuad yang sangat dia harapkan. Fuad mengangguk.

Fini pun beranjak dari bangku, dan berjalan. Belum saja empat langkah Fini menggerakan kakinya, tiba-tiba saja dia menghentikan langkah dan berbalik. Fuad sudah tepat dua meter di belakangnya.
“Aku dulu merindukan mu” ucap Fuad.
Fini terkejut mendengar ucapannya. Mata mereka kini saling menyelami. Tanpa sadar, tubuh mereka saling mendekat.
“…Lalu..Mengapa aku tak pernah membaca surat cinta mu, Fuad…?” tanya Fini, sambil mendaratkan senyuman.

2 thoughts on “Surat Mu Tak Pernah Ku Baca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s