‘percakapan’ dengan seorang Arab

Di Hamburg ini, saya kan punya ‘Bapak Tamu’, atau biasa dikenal dalam bahasa inggris adalah guest father, yang asalnya dari negara arab sana, dari negara al jazair tepatnya. Dulu sewaktu saya masih menjalani program au pair, saya sangat ingin menulis tentang lelaki arab berdasarkan percakapan-percakapan saya dengan beliau, tapi selalu malas. Baru hari ini saya semangat menulis tentang kejadian yang saya garis bawahi saja.

Dulu yang saya maksud, adalah kurun waktu antara 18.10.09 – 31.08.10. Mood saya dipermainkan sekali oleh si bapak arab itu. Awal bertemu, dia memberikan kesan yang sangat baik, dan terlebih lagi dia punya muka yang lumayan. Dia memanjakan saya sekali, memberikan janji-janji manis, dan terlebih lagi dia sangat penasaran dengan kehidupan cinta saya, yang sayangnya saya tak bisa memberikan lebih dalam menyuapi penasarannya.

Seiring waktu berjalan, saya mulai mengenal bapak tamu saya itu. Bulan ketiga selama saya disana, dia perhatian sekali, lebih dibanding ibu tamu saya. Saya mengalami sedikit masalah dan terjebak di berlin, kota yang jaraknya dihitung dengan 3 jam memakai kereta ke hamburg, dan kejadian itu terjadi larut malam. Bak pahlawan si bapak tamu menjemput saya dan teman saya, dan tentunya dengan bumbu nasihat seorang kakak pada adiknya. Saya terharu sekali, apalagi di akhir perjalanan kami itu, ditutup dengan mobil yang mogok dan harus mendatangkan mobil derek pada pukul 3 pagi, di jalan tol sepi pula. Perjalanan yang tak akan saya lupakan seumur hidup saya dengan sang bapak tamu. Dia bilang, saya adalah seorang perempuan muslim yang memakai kerudung, dan orang asing pula disini. Sangat berbahaya, kalo saya dan teman saya itu menginap di hotel, dan di daerah jerman timur pula. Dia sudah menganggap saya sebagai adiknya, adik sedarah semuslim, dan ingin melindungi segenap tenaga, tapi saya pun harus bisa menjaga diri. Ok, pikir saya.

Lalu di bulan-bulan berikutnya, seringlah saya mendengar teriakan-teriakan, pukulan di meja makan, jerit tangis anak-anak tamu saya, di rumah keluarga tamu saya ini. Saya mulai melihat sifat aseli bapak tamu saya ini, umpatan-umpatan sudah seperti nafasnya, teriakan-teriakan sudah seperti kedipannya, dia penggugup sekali. Tapi dalam hal agama, saya acungkan jempol untuk ibadahnya, shalat tepat waktu, puasa tak pernah putus, tapi tetap tidak diikuti tindakan yang bisa jadi cerminan. Satu hal lagi, dia sangat senang berbicara, bercakap-cakap, ber-bla-bla-bla. Ok, pikir saya.

Terjadilah hal itu, masalah muncul dari ibu tamu saya, dia berhenti dari pekerjaannya, dan pekerjaan saya pun terancam, karena dia tentu saja tidak membutuhkan seseorang untuk menjaga anaknya, dimana ibu tamu saya harus diam di rumah. Lalu apa-apa yang saya kerjakan seperti tidak pada tempatnya, terlebih lagi di mata bapak tamu saya itu. Saya sebenarnya sudah mencium hal ini, ketika dia di bulan bulan pertama menunjukan cara mengelap meja, dan ketika dia ingin mendengar pengetahuan saya tentang islam.

Datanglah hari, dimana dia mulai menunjukan ketidaksukaannya, kejengkelannya dan ketidakpuasaannya pada saya. Hari itu bagaikan hari-hari saya bersama kutu di rambut di waktu saya kecil, sangat gatal tapi terus menggigit. Hari itu, dia bilang,

‘saya tidak puas akan pekerjaan kamu. anak saya yang pertama tidak merasa mendapat sesuatu dari kamu. kamu juga tidak benar-benar bisa membersihkan rumah. bla bla bla’

Lalu esoknya, saya bilang

‘sebenarnya apa yang kamu rasa tidak nyaman dari saya?’

‘ya, bla bla bla’

‘ok, saya berlaku semua itu karena kamu juga. kamu membuat saya tidak nyaman, kamu suka berteriak, mengumpat, pernah memukul meja disaat makan malam, dan saya tidak suka. saya juga disini bukan pembersih rumah, saya disini hanya untuk menjaga anak-anak kamu, saya pun disini bukan guru agama.’

dan dia benar-benar terkejut dengan perlawanan saya. Karena saya selama ini selalu mengunci mulut saya, dan dia pun meminta maaf.

Lalu, di hari berikutnya, saya bangun pagi, sarapan bersama keluarga saya ini tanpa bapak tamu saya, dia masih tidur lelap. Hal ini sudah sangat jarang saya lakukan di akhir minggu pada bulan ke-delapan saya disini, karena saya tidak nyaman. Saya selalu bangun siang, atau menginap di teman saya yang sudah saya anggap keluarga sendiri. Tapi pada hari itu,setelah kemarin malamnya bertegur-teguran dengan bapak angkat, saya ingin mulai kembali seperti dulu. Saya bercakap-cakap, dan berinisiatif membantu ibu tamu dalam membersihkan rumah, lalu si bapak angkat saya bangun. Dan terjadilah, dia mulai menyindir saya dengan inisiatif saya itu, menepuk-nepuk kepala saya dengan mengatakan ‘wow adik saya ini sedang bersemangat membantu bersih-bersih’, saya mulai tidak enak hati. Lalu dia memulai lagi, dengan mengomentari kebersamaan saya dalam ikut serta sarapan, karena sangat langka, saya semakin tidak enak hati. Puncaknya, ketika dia mulai berbicara,

‘bukannya saya mau membandingkan kamu dengan au pair sebelumnya yang memang orang jerman, tapi dia sangat bisa membersihkan rumah, bisa membawa sesuatu bagi anak-anak, hanya saja sayangnya dia bukan muslim, dan suka memakai baju-baju yang minim, yang terima kasih tuhan memang indah buat mata saya, tapi saya cinta istri saya. Saya sangat puas dengan pekerjaan dia, dan juga nyaman karena dia selalu berkumpul dengan kita.’

saya masih mendengar.

‘kamu itu ya, tidak pernah mengajarkan mengaji, kamu itu ya tidak pernah membawa ilmu islam ke anak-anak saya. Bahkan anak saya yang pertama tidak kamu ajarkan satu ayat pun. Saya sangat kecewa, karena saya memilih kamu untuk hal itu juga.’

saya masih mendengarkan.

‘dan lagi, kalo saya pulang kerja, saya sangat lelah, lalu ketika membuka pintu, saya lihat rumah seperti kapal pecah, terlebih lagi di akhir minggu. Bukan saya berpikir kalo kamu karena libur lalu tidak mengerjakan apa-apa, tapi tolonglah kalo kamu liat barang-barang tidak pada tempatnya, kamu rapihkan, lalu…..’

‘sudah cukup kamu berbicara hari ini!’

saya langsung memotong omongannya sebelum dia selesai berbicara bla bla, saya tutup pintu dapur dan membiarkan dia di lorong bersama anak-anak dan ibu tamu saya. Saya tidak peduli. Saya di dapur sendiri, mulai menangis kecil, dan bertekad akan membalas ucapannya setelah janji pada ibu tamu saya selesai.

Saya benar-benar melakukannya, saya masuk ke ruang kerja bapak tamu saya itu, lalu mulai berbicara:

‘kamu sudah cukup ber bla, bla, bla dari dua hari kemarin. Sekarang giliran saya yang berbicara. Saya hanya ingin mengatakan 3 hal.

kesatu, kamu sangat tidak menghargai pekerjaan saya. Apa kamu tidak lihat betapa rumah mu selalu berantakan? Saya selalu membersihkan, dan merapihkan isi rumah, terserah kapan itu, kalau saya masih bertenaga, dan ada waktu saya pasti lakukan. Kalau pun saya tidak melakukannya pasti ada alasannya, bukan karena saya tidak mau atau karena saya libur misalnya. Lagian kalo kamu liat rumah berantakan seperti itu, kenapa kamu tidak lakukan sendiri? kenapa kamu harus mengharapkan saya melakukannya? ya saya tau kamu lelah, dan sebagainya, makanya saya juga tidak bertanya balik, kalo kamu belum membereskan barang-barang kamu sendiri, karena saya tau alasannya.

kedua, sikap kamu itu sangat-sangat tidak membuat saya tidak nyaman, berteriak, dan sebagainya.

ketiga, mengapa saya selalu diam di kamar, karena saya ingin privasi saya, dan berkomunikasi dengan keluarga saya. Kalian keluarga saya memang, tapi itu berbeda, berbeda dengan yang saya temukan di keluarga teman saya yang hangat dan sebagainya.’

dan masih banyak lagi yang ingin saya katakan tapi tidak bisa, saya tak tahan, dan akhirnya saya menangis. Ibu tamu saya datang dan memeluk saya, begitupun anak angkat kedua saya, yang selalu meghibur saya.

Bapak angkat saya benar-benar merasa tidak enak, dan berkata kalau hanya dia lah tokoh antagonis di rumah ini, dan memang benar, itu yang saya rasakan.

Saya telah berhasil merampas posisinya dalam ‘percakapan’, saat itu. Begitu lega, puas, dan hampa. Lalu saya mencari ketenangan di tempat lain, dengan sepeda ibu tamu saya, dan dengan ditemani udara yang segar di musim semi.

-Sunday, February 6, 2011-

2 thoughts on “‘percakapan’ dengan seorang Arab

  1. Hallo salam kenal… wah sampai segitunya kah ? Berapa lama tinggal sama keluarga itu ? Inilah kehidupan seorang aupair, banyak suka nya namun kadang kadang ada juga duka yang diterima.. yang terpenting kesabaran, mental yang kuat dan rendah hati.

    1. Hallo @libertymeivert salam kenal juga! Seabad sudah, akhirnya saya buka blog saya lagi, hehhe. Dulu saya tinggal 10 bulan jadi Au Pair, tapi setelah itu saya masih tinggal di sana sesekali. Kalo dihitung total waktunya, mungkin saya tinggal di sana kurang lebih sampai 3 tahun. Betul banget, setuju! Memang setelah menyerap budaya Jerman yang sebaiknya berterus terang lalu mencari solusi, saya bisa hidup damai dan tentram bersama keluarga tamu saya, bahkan sudah saya anggap/dianggap keluarga itu, seperti keluarga sendiri.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s