AIR

Selesai sudah, aku pun membasuh wajah perlahan dengan handuk, begitu segar, seperti terlahir kembali. Ritual terakhir setelah mandi, yaitu wudhu. Teringat sekilas wajahnya, wajah yang selalu ku rindukan tiap detiknya, senyumnya, jemarinya, pelukannya, aku rindu kekasih ku. Sudah sebulan saja, aku jauh dari nya. Aku harus menetap di kota ini, kota pelabuhan, begitu ramai dengan air. Genap seminggu sudah, aku tak bertemu dengannya, dan genap 4 hari pula dia menghilang begitu saja tanpa pesan di alat komunikasi mana pun. Aku menggalau, tak tenang. Kenapa harus seperti ini? Pikiran ku penuh, hati ku berdetak kencang setiap ku ingat dia.

Aku bertemu dengannya di dunia maya. Dunia yang saat ini digandrungi oleh semua manusia canggih. Aku tak peduli pada awalnya, dan dia terus mendekat dengan segala pesonanya. Dan aku pun terjebak oleh jaringnya, dan kita pun memadu cinta. Mungkin dia mencintaiku lebih dulu, atau mungkin aku. Yang pasti, saat ini aku menunggunya untuk menghubungi ku, setelah berkali-kali aku mencoba menghubunginya. Umur hubungan kita masih seumur jagung, tapi begitu manis, dan tak mau aku membuangnya begitu saja. Dia begitu berbeda dengan lelaki-lelaki yang dekat dengan ku dulu, dia penyejuk hati ku seperti air, begitu menyegarkan hidupku, aku seperti terlahir kembali.

Aku teringat percakapan terakhir kita tentang tuhan dan pernikahan, dua tema yang sangat sensitif dan bertolak belakang dalam hubungan kita. Sebenarnya, dia tidak percaya tuhan, dan tidak percaya akan pernikahan. Kedua hal yang menjadi tolak ukur kesuksesan dan kebanggaan bagi ayah ibu ku. Agama ku menyebutkan, bahwa aku harus memilih jodoh berdasarkan agama, itu yang terpenting. Tapi hati ku berkata lain, dan tanpa sadar telah bersama dia. Dia sudah merasuk ke dalam otak ku. Tapi, tak pernah sedikit pun aku berniat meninggalkan keyakinan ku hanya untuk bersama nya. Apalagi, keinginan ku di masa depan, aku bisa memiliki keluarga yang utuh dan normal dengan label pernikahan. Lalu, Ibu, beliau sudah begitu saja memberikan ultimatum pada ku. Setelah beliau tahu jelas dengan siapa aku berhubungan, beliau menyuruh ku untuk memutuskan hubungan yang ku bangun dengan tawa. Kalau dia tidak masuk ke agama ku, dan berniat menikahi ku, aku harus meninggalkannya, pesan Ibu. Ibu begitu senang, ketika tahu aku harus pindah kerja dan jauh dari nya. Menurutnya, itu lebih baik, dan menurutnya lagi, aku harus segera berbicara dengan dia tentang hubungan selanjutnya.

Teringat kembali percakapan dengannya seminggu yang lalu.

“kamu tahu kan, aku sayang banget sama kamu..”

“iya..aku pun begitu”

“hmm….kamu…” aku tak bisa menahan tangis ku.

“kamu kenapa..??” wajah nya begitu cemas.

Oh Tuhan, mengapa Kau juga menguji ku dengan cara ini, dan dalam hal ini?? teriak ku dalam hati.

“kamu tahu kan, aku bagaimana..”

“bagaimana? maksudmu apa?”

“aku siapa, keluarga ku siapa, aku terlahir sebagai apa, apa yang aku yakini, dan apa pengharapan orang tua ku, kamu pasti tahu kan…budaya kita seperti apa….dan kamu harus lebih tahu kalau aku sayang sama kamu” tangis ku kembali meledak. Dan dia memeluk ku erat, tangannya memegang jemari ku.

“sudah, menangis saja dulu..lalu biarkan hati kamu dan aku bicara…perlahan saja..tak perlu kamu buru-buru” ucapnya berbisik di telinga ku.

Hati ku begitu damai dalam peluknya. Aku mencintainya Tuhan, biarkan kami bersama.

Ironis memang, di mana aku memohon pada Tuhan ku, dan entah apa yang ada di pikirannya saat ini, tentang manusia yang tak bertuhan. Pada siapa dia musti bergantung, berkeluh kesah, dan pasrah.

Aku pun mulai tenang, dan melepaskan pelukannya perlahan. “aku..aku.. butuh kepastian tentang hubungan kita, mmm…aku tahu kita saling sayang, dan…dan.. kita menjalani hubungan serius. Hanya saja….aku butuh masa depan dengan hubungan kita…masa depan ku adalah pernikahan, dan seperti yang mungkin kamu tahu, menikah dengan pasangan yang seiman dengan ku…” ucapku terbata-bata dan bergetar. Aku menunggu jawabannya dengan gugup. Ku lihat wajahnya begitu lelah, dahinya mengerut, mulutnya tertutup, matanya kosong. Cukup lama kita berdiam diri. Aku terus menunggunya. Sepuluh menit berlalu sudah, lima belas menit, dua puluh menit…

“kamu tahu..” ucapnya memecah keheningan, “Air adalah elemen alam yang memiliki sumber yang kasat mata, yang bisa kita lihat dengan mata kita sendiri. Seperti hujan dan samudra. Hujan yang meresap dalam tanah. Mata air di gunung, air selokan, sungai, danau, laut, semuanya akan kembali ke samudra. Bahkan hujan yang bersifat sementara dan samudra yang luas itu bisa kita rasakan sehari-harinya meresap ke dalam darah. Kita bisa merasakannya melalui air di sumur, air dam, dan kemudian kita bisa menikmatinya di setiap keran yang ada. Dan kamu tahu, manusia akan selalu membutuhkan air dan hujan dan samudranya, akan selalu, kalau tidak mereka akan mati.” ucapnya.

Aku masih terpaku. “Lalu hubungan kita?”

“itu jawaban ku, sayang….renungilah” ucapnya lagi. Dia kembali menarik ku kedalam peluk nya, begitu hangat. “maafkan aku” ucapnya lagi, kemudian dengan lembut mengecup bibir ku dan mata ku.

Aku kembali menangis, tak bisa ku tahan air mata.

Dalam tiga hari setelah percakapan dan pertemuan terakhir itu, kita berkomunikasi seperti biasanya. Meski hanya aku yang selalu bersemangat, dia sepertinya begitu saja. Dia bilang, akan mengunjungi keluarganya empat hari yang lalu, dan tepat empat hari sudah dia sama sekali tak menghubungi ku, padahal aku mati-matian sudah mencoba menghubunginya, meninggalkan pesan di mana-mana. Mana mungkin dia mematikan semua alat komunikasinya hanya demi bertemu keluarganya, sangat tidak mungkin. Yah, menghilang sudah. Mungkin seperti itu, akhir hubungan kita.

Oh air, kamu penyejuk hati ku, bisik ku sembari berwudhu. Aku pun memulai komunikasi ku dengan Tuhan yang maha Esa. Begitu tenang dan damai, meski hati ku sakit sekali.

Terdengar suara sms dari hp ku, ah paling juga teman, dengan bermalasan ku ambil hp tanpa kubuka kostum sembahyang ku. Aku terkejut, dada ku berdetak sangat kencang, sms dari dia.

“Hi sayangku..Aku adalah air, dan kamu adalah samudra ku. Samudra tak mungkin tetap ada begitu saja bukan, tanpa hujan dari Tuhan? aku sedang di depan pintu rumah mu, boleh aku minta minum? haus.”

Tanpa pikir panjang, aku berlari hampir meloncat mencapai pintu utama. Saat ku buka pintu, ku lihat dia tersenyum lebar, begitu bersih wajahnya. Hati ku tersiram air, begitu tenang. Dia tampan sekali dengan kemeja putih itu…. Aku pun memeluknya, ya dia adalah Air ku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s