über dich zu schreiben

Ich schrieb dir jeden Tag, jede Mahlzeit, von Guten Morgen bis Guten Nacht. Wusstest du das? Wie die Einleitung, theoretische Grundlage, Analyse und Schlussfolgerung. Bäng! Die Note ist da. Wir haben uns zueinander bewertet. Ich bin enttäuscht davon und du bist traurig wegen mir. Schade, ja schade. Leben ist kein Leben ohne Schaden, genauso Leben ist kein Leben ohne Enttäuschung, wusstest du das?

Ich hatte mich darauf super gefreut, bevor wir uns ins Gesicht sahen, bevor wir uns umarmten. Du auch, du hattest an mich oft gedacht. Und dann?! Fühle mich, dass du sagtest, du bereuest, mich zu sehen. “Wenn das so wie jetzt wäre, lieber würden wir uns nur schreiben” sagtest du. Ach, leider möchte ich lieber dich sehen und bin eigentlich zufrieden. Besser als die Partituren auf die Transkription zu beschreiben. Nun, ich fühle mich jetzt sehr schuldig, an dir und an meiner Interpretation auf die Papiere. Weil ich über euch nicht geschrieben habe. Lust und Neugier verfärben sich langsam.

Weißt du. Ich habe kein Wissen über dich zu schreiben. Ich habe kein Gefühl über uns zu schreiben. Ich erfuhr dich nur für kurze Zeit, erfassbar gleichzeitig mit Wand. Jetzt, ich muss unbedingt über dich schreiben, bevor ich dich vergessen hätte, bevor  ich von dir vergessen würde. Dass du mehr als Mehrzahl in meiner kürzen Zeit bist. Dass was wir gemacht haben, tat mir sehr gut. Obwohl der Luzifer von meinem Mund bereits in deinem Kopf ist, kannst du noch mir was Gutes schreiben, über mich und unserer Zeit.

Es tut mir Leid. Es tut dir Leid. Es tut uns Leid am Ende. Die Frage nur: Warten wir aufeinander oder gehen wir lieber nach unserer eigenen Spur weiter? Lass der Winter dann für uns antworten.

The Autumn of Shone

Today is the last week of October. It is still in Autumn, the leaves still fall down, they are still yellowish.

Yesterday was the Golden October, the weather was not cold, warm with the sunshine.

On Monday, the sun shone too. I said to you “I want you to stay with me, more than as a friend”. You replied “no, I can not”.

Last week I just planed, I wanted have a date with you, the beautiful days in Autumn. Romantic and warm in the same time. I wanted the romance, the memory in Autumn, not you.

On Sunday we met. We had fun, were happy, careless, angry and sad. Maybe just me. I still do not want you. Until on Monday, the day when you were gone. I was wanting you, before we live seperate between million of trees, like now.

Let say I have a friend and his name Shone, from a second past verb “Shine”. He was not so shiny like the sun at the first, before I knew that he could calm me like the moon. Even it was dark, his light would light up my days. We liked to meet, to chat, to say jokingly, to be upset, to make video calls, to make phone calls, or just to see each other. “We are close friends, ” he said to me one time, I laughed. Neither agree, nor to deny. I just laughed and asked myself “are we?! I don’t feel we are”. He couldn’t hear what I said to myself, sure. And then on Sunday he said to my flatmate “we know each other maybe around 6 months” and I laughed. Asked myself “really?! I even forget when I met him”. And then he said to his self “I don’t want to have any hope about you, I would be upset, if I lost you. I do not want to lose you.” and repeated to me. I did not laugh. I stupefied and told myself “I own me. I would, if I will”.

That was many weeks ago. And now you lost me in Autumn.

I just wanted to have a date with you, just one day on Sunday, in a perfect day of Autumn. We would walk together through the trees and under the rain of leaves. The sun would shine for us, would have better food ever with a warm cup of your favorite tea and we will talk like we were falling in love. Even we are not, even we would just pretend. I would better pretend as your lover than your friend. Because it is Autumn and you should not betray the most romantic weather. But, you did.

Here I am now, maybe I am sad and sadder when I look through my windows, the Autum is still there. The leaves fall more, turn their color more yellowish, reddish, brownish. This is my sixth Autumn and the saddest one. This is my first time that I miss the winter. The Autumn is still here and would stay with me for awhile. But, you are not.

Good bye, Shone!

Hilangnya Tahun 2014

Lucu sekali, saya baru sadar, kalau saya tidak pernah menulis apapun di blog ini selama tahun 2014, tidak satu artikel pun. Kenapa ya? Kembali ke tahun lalu, kalau saya ingat-ingat kembali, banyak yang saya lakukan. Dari mulai ikutan pameran foto, mengambil banyak seminar (seperti seminar menulis, berbicara dan film), mencoba-coba situs perkencanan alias dating sites, pulang kampung ke Indonesia, 12 hari di Hungaria mengikuti kegiatan universitas di musim panas dan di akhir tahun saya sibuk dengan belajar/bekerja sana sini. Mau rasanya, saya ceritakan satu persatu pengalaman tahun lalu. Supaya saya tahu, saya tidak menyia-nyiakan waktu. Kamu pasti tahu peribahasa “waktu adalah uang” atau “time is money”? Iya lah. Itu yang saya percaya, tapi sayangnya kenapa saya tidak bisa menabung waktu? Yang paling sering saya dengar malah: efisiensi waktu. Artinya, kita harus sebisa mungkin memanfaatkan waktu yang ada dan yang sedang kamu punya saat ini. Tentu saja, “saat ini” bisa direncanakan dari waktu-waktu sebelumnya di masa lampau dan dengan kedispilinan yang tinggi, agar rencana-rencanan tersebut bisa dijalankan, lalu waktu bisa menjadi “efisien”. Begitu katanya, mengingatkan diri sendiri akan konsep “efisien”.

Sayangnya, saya gagal dalam mengefisienkan waktu-waktu, setidaknya sepertiga dari waktu yang saya punya. Tahun 2014 adalah tahun yang beberapa bulan lalu paling saya sesali, jujurnya. Alasannya karena saya tidak pernah menulis blog di tahun itu. Ha ha ha. Tentu saja bukan karena itu, tetapi karena saya tidak sadar dan ingat seberapa besar nilai yang saya telah lakukan di tahun itu. Apakah cukup berharga untuk tidak saya sesali? Kadang saya berdoa secara spontan sebelum terjatuh lelap, kalau saja saat saya bangun, saya bisa kembali ke dua tahun lalu. Atau kadang saya berharap punya kekuatan menghentikan waktu dan di waktu yang terhenti itu, saya bisa bersantai sepuas hati, sampai rasanya santai itu memuakkan dan lalu memulai kegiatan-kegiatan seharusnya. Sayangnya, doa dan harapan itu cuma untuk dunia dongeng. Aneh ya, katanya waktu adalah uang, tetapi ketika saya tidak mau memakai waktu, kenapa malah waktu telah terbuang dengan sendirinya. Ya memang, yang harus saya bandingkan antara konsep waktu dan uang adalah nilainya, bukan bentuk materinya. Oleh karena itu, saya akan mencoba mengingat nilai-nilai dari aktivitas yang telah saya lakukan di tahun 2014, sehingga saya tidak merasa kehilangan dan tidak perlu ada sesalan dalam mencari waktu.

Aaah….

Aku ingin sekali, mengumpulkan waktu-waktu yang pernah tidak aku pakai dan terbuang dengan sendirinya, ke dalam dompet khusus waktu. Akan ku pakai di setiap detik dengan kata sifat “efisien”. Coba saja aku bisa menabung waktu, mungkin aku bisa seperti Paman Gober yang berenang-renang di tumpukan emas, lalu aku berenang-renang di ratusan jam. Coba saja, aku sudah menjadi orang kaya, kaya dengan waktu luang.

Nah loh, apa hubungannya konsep “waktu” dengan judul “Hilangnya Tahun 2014”? Ah, karena kata “hilang”, yang membuat waktu tidak akan kembali, tetapi akan selalu dicari. Semoga bertemu kembali. Ah, saya cuma mau bikin pendahuluan buat post-post berikutnya, sekalian pengingat diri sendiri kalau saya mengunjungi blog pribadi: memotivasi saya untuk menulis tentang berbagai aktivitas yang ‘berguna’ di tahun 2014. Kalau istilah linguistiknya, to show my own “self identitiy” in 2014 and my future posts could be very humble brag, which is positive self disclosure. Ngomongin Linguistik, saya bahagia sekali hari ini, karena konferensi “International Language in Media” yang sudah diidam-idamkan dari bulan Juni sudah diikuti dan selesai dengan penutupan yang indah. Nanti saya akan ceritakan lebih lanjut, detail konferensinya bagaimana dan seperti apa. Sayang saya tidak punya foto, tapi mungkin bisa saya curi fotonya dari media sosial mereka, para intelektual itu.🙂 So, have nice thursday everyone!😉

p.s. dari hasil penelitian tentang Bahasa Jepang di Blog dan Facebook, dinyatakan kalau gadis-gadis muda (di bawah umur 30) di Jepang sangat suka sekali menggunakan Emoticon atau Emoji, untuk bisa tetap terlihat imut alias Kawai. Makanya saya sengaja pakai 2 emoticon di awal dan penutup kalimat! ^_^